"Lama tak berbicara tentang cinta."
Cinta tetaplah cinta.
Memiliki atau merelakan itu bukanlah soal, karena cinta tetaplah cinta.
Cinta adalah cinta.
Didekatkan atau dijauhkan, itu bukanlah masalah karena cinta tetaplah cinta.
Cinta berpelangi cinta.
Mau berwarna atau tidak, itu tidaklah menjadi pembeda karena cinta tetaplah cinta.
Cinta berirama cinta.
Diguncang atau diendapkan, itu bukanlah gangguan karena cinta tetap cinta.
Cinta berbuah cinta.
Manis atau pahit, itu tak jadi pembeda karena cinta tetaplah cinta.
Cinta kebenaran cinta.
Jujur atau pun dusta, tiadalah mampu menipu karena cinta tetaplah cinta.
Cinta tetaplah cinta dari kau ada hingga kau tak ada.
"Izinkan aku bicara tentang cinta, meski yang kubicarakan mungkin jauh dari cinta"
Rabu, 18 September 2013
Selasa, 10 September 2013
Puisiku
ILMU dan IMAN
Saat
kuterlahir, aku menangis. Ada ketakutan yang mendalam. T
akut, takut tak mampu
menerangi jiwaku di dunia yang kelam dan penuh gejolak kenistaan. Namun belaian
Sang Ibu dan Ayah membuatku merasa hangat dalam pelukan.
Hari
demi hari berlalu. Mataku secara perlahan mulai menangkap cahaya. Ha… Ada setumpuk tawa dan puji yang
terngiang-ngiang merangkai hari-hariku. Cahaya kebahagiaan pun mengiringi
langkah kaki mungilku. Hidupku bergelimang cahaya , cahaya kasih sayang, cahaya
ketulusan, pun cahaya kedamaian.
Kemudian
di suatu senja di kala pelangi mulai memudar, sambil merapikan mainanku sang
Ibu berkata, “Nak, kau tahu? Cahaya bahagia itu bisa saja hilang dari tanganmu
dari pandanganmu, bahkan dari hatimu.”
“Apa
maksud Ibu?” aku pun bertanya tak mengerti. Ibu memelukku lalu berkata,
“Iya
Nak, mungkin suatu saat nanti kamu akan terseret ke dalam kegelapan, kekelaman
yang menggelisakan, keberingsutan yang dikuasai oleh nafsu dunia.”
“Benarkah
yang Ibu katakan? Aku ingin cahaya bahagia itu tetap di sisiku! Ibu tolonglah
aku. Aku tak ingin dalam kegelapan. Kegelapan itu menyiksa Ibu. Kegelapan itu
seperti neraka bagiku. Ibu apa yang harus aku lakukan?”
Secara
perlahan Ibu melepaskan pelukannya, “Nak, maukah engkau kuberitahu penyuluh
cahaya-cahaya itu agar ia tetap menerangi setiap langkah kakimu?”
“Tentu
saja Ibu, aku pasti akan mencarinya.” Pintaku bergejolak dengan penasaran.
Lalu
sang Ibu pun menjawab dengan mantap, “Ia adalah ILMU”
“ILMU?
“Yah…
ILMU.”
ILMU
adalah penyuluh lentera kehidupan
ILMU
pelita hidup kita
ILMU
merupakan hati dari raga-raga yang bergejolak
ILMU
adalah dayung bagi mereka yang mengarungi lautan penghidupan, menghadapi
terpaan ombak keawaman
ILMU
peretas lingkaran-lingkaran ketidaktahuan, menjadi sesuatu yang berarti.
ILMU
adalah ujung tombak untuk tetap berdiri kokoh di era globalisasi.
ILMU
kendaraan paling mutakhir yang akan mengantarmu pada kesuksesan, kejayaan, dan
kekuasaan.
ILMU
memudahkanmu untuk mencapai apa yang kamu inginkan, yang kau cita-citakan.
ILMU
yang kau miliki akan memuliakanmu
Maka
dari itu, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina!
“Apakah
cukup dengan ILMU saja Ibu?”
“Tidak Nak, ILMU hanyalah penyuluh yang menyalakan
cahaya-cahaya itu. Maukah kau kuberitahu penjaga cahaya-cahaya itu agar tetap
memancarkan percikannya yang mendamaikan melodi kehidupanmu?”
“Apakah
itu Ibu?”
“Ia
adalah IMAN.”
“IMAN?”
IMAN
adalah alasan tumbuh berani menatap dunia hingga akhir hayat
IMAN
adalah kekuatan untuk merobohkan dinding-dinding kekhawatiran dan kecemasan
yang mencekam
IMAN
adalah burung yang bernyanyi saat fajar masih gelap
IMAN
membuat semuanya mungkin
IMAN
harus ditegakkan seperti layar yang mengambil kekuatan dari alam semesta
IMAN
akan menjadikan manusia menjadi manusia seutuhnya sebagai khalifah di muka bumi
ini.
IMAN
adalah langkah pertama bahkan ketika kamu tidak melihat tangga keseluruhan
IMAN
yang membawa syurga ke dalam jiwamu, jiwa yang akan mengantarmu menuju Syurga
ilahi.
Nak
kelak kala kau dewasa kau boleh menjadi apa saja yang kau inginkan.
Jika
nanti ILMU mengantarmu menjadi seorang Raja maka jadilah raja yang ber-IMAN
Jika nanti ILMU memahat impianmu menjadi Presiden sebuah Negara janganlah kau lupakan IMAN
Jika kelak kau ILMU membukakan jalan menjadi ulama yang mulia, maka berantaslah segala kesesatan dengan kekuatan IMAN
Jika kelak ILMU menorehkan titah untuk menjadikanmu seorang guru, maka sampaikanlah kebaikan IMAN
Jika nanti ILMU memahat impianmu menjadi Presiden sebuah Negara janganlah kau lupakan IMAN
Jika kelak kau ILMU membukakan jalan menjadi ulama yang mulia, maka berantaslah segala kesesatan dengan kekuatan IMAN
Jika kelak ILMU menorehkan titah untuk menjadikanmu seorang guru, maka sampaikanlah kebaikan IMAN
Jika
kelak ILMU mendulangmu menjadi mutiara panggung yang pandai berbicara, maka
bicaralah berlandaskan IMAN
Jika kelak menjadi seorang penulis terkemuka, Torehkanlah tinta IMAN dalam setiap lembar bukumu!
Jika kelak menjadi seorang penulis terkemuka, Torehkanlah tinta IMAN dalam setiap lembar bukumu!
Milikilah
keduanya, milikilah ILMU dan IMAN sehingga cahaya, cahaya, cahaya yang kau
inginkan akan tetap di sisimu. Cahaya yang di sisimu akan menjadi cahaya bagi
manusia-manusia yang disekelilingmu.
Puisi, Tenanglah Hatiku
Tenanglah Hatiku
Jakarta,
22 Mei 2013
Biarlah
Pelangi bercerita akan keindahannya
Senja menyanjung siang dan malam
Bunga-bunga terbuai rayuan kumbang
Cinta menyulap hitam dan putih
Tenanglah hatiku
Kalaupun langit mencercah dari kejauhan
Angin membelai dalam kehinaan
Tenanglah hatiku
Tenanglah dalam berfikir
Tenanglah dalam bekerja
Tenanglah menjaga-Nya
Hatiku tenang
Langganan:
Postingan (Atom)
