Rabu, 18 September 2013

Belajar Bicara Tentang Cinta ^_^

"Lama tak berbicara tentang cinta."

Cinta tetaplah cinta.
Memiliki atau merelakan itu bukanlah soal, karena cinta tetaplah cinta.
Cinta adalah cinta.
Didekatkan atau dijauhkan, itu bukanlah masalah karena cinta tetaplah cinta.
Cinta berpelangi cinta.
Mau berwarna atau tidak, itu tidaklah menjadi pembeda karena cinta tetaplah cinta.
Cinta berirama cinta.
Diguncang atau diendapkan, itu bukanlah gangguan karena cinta tetap cinta.
Cinta berbuah cinta.
Manis atau pahit, itu tak jadi pembeda karena cinta tetaplah cinta.
Cinta kebenaran cinta.
Jujur atau pun dusta, tiadalah mampu menipu karena cinta tetaplah cinta.

Cinta tetaplah cinta dari kau ada hingga kau tak ada.

"Izinkan aku bicara tentang cinta, meski yang kubicarakan mungkin jauh dari cinta"



Selasa, 10 September 2013

Puisiku


ILMU dan IMAN
 
Saat kuterlahir, aku menangis. Ada ketakutan yang mendalam. T


akut, takut tak mampu menerangi jiwaku di dunia yang kelam dan penuh gejolak kenistaan. Namun belaian Sang Ibu dan Ayah membuatku merasa hangat dalam pelukan.

Hari demi hari berlalu. Mataku secara perlahan mulai menangkap  cahaya. Ha… Ada setumpuk tawa dan puji yang terngiang-ngiang merangkai hari-hariku. Cahaya kebahagiaan pun mengiringi langkah kaki mungilku. Hidupku bergelimang cahaya , cahaya kasih sayang, cahaya ketulusan, pun cahaya kedamaian.

Kemudian di suatu senja di kala pelangi mulai memudar, sambil merapikan mainanku sang Ibu berkata, “Nak, kau tahu? Cahaya bahagia itu bisa saja hilang dari tanganmu dari pandanganmu, bahkan dari hatimu.”

“Apa maksud Ibu?” aku pun bertanya tak mengerti. Ibu memelukku lalu berkata,
“Iya Nak, mungkin suatu saat nanti kamu akan terseret ke dalam kegelapan, kekelaman yang menggelisakan, keberingsutan yang dikuasai oleh nafsu dunia.”

“Benarkah yang Ibu katakan? Aku ingin cahaya bahagia itu tetap di sisiku! Ibu tolonglah aku. Aku tak ingin dalam kegelapan. Kegelapan itu menyiksa Ibu. Kegelapan itu seperti neraka bagiku. Ibu apa yang harus aku lakukan?”

Secara perlahan Ibu melepaskan pelukannya, “Nak, maukah engkau kuberitahu penyuluh cahaya-cahaya itu agar ia tetap menerangi setiap langkah kakimu?”

“Tentu saja Ibu, aku pasti akan mencarinya.” Pintaku bergejolak dengan penasaran.

Lalu sang Ibu pun menjawab dengan mantap, “Ia adalah ILMU”

“ILMU?

“Yah… ILMU.”

ILMU adalah penyuluh lentera kehidupan
ILMU pelita hidup kita
ILMU merupakan hati dari raga-raga yang bergejolak
ILMU adalah dayung bagi mereka yang mengarungi lautan penghidupan, menghadapi terpaan ombak keawaman
ILMU peretas lingkaran-lingkaran ketidaktahuan, menjadi sesuatu yang berarti.
ILMU adalah ujung tombak untuk tetap berdiri kokoh di era globalisasi.
ILMU kendaraan paling mutakhir yang akan mengantarmu pada kesuksesan, kejayaan, dan kekuasaan.
ILMU memudahkanmu untuk mencapai apa yang kamu inginkan, yang kau cita-citakan.
ILMU yang kau miliki akan memuliakanmu
Maka dari itu, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina!
“Apakah cukup dengan ILMU saja Ibu?”

 “Tidak Nak, ILMU hanyalah penyuluh yang menyalakan cahaya-cahaya itu. Maukah kau kuberitahu penjaga cahaya-cahaya itu agar tetap memancarkan percikannya yang mendamaikan melodi kehidupanmu?”

“Apakah itu Ibu?”

“Ia adalah IMAN.”

“IMAN?”

IMAN adalah alasan tumbuh berani menatap dunia hingga akhir hayat
IMAN adalah kekuatan untuk merobohkan dinding-dinding kekhawatiran dan kecemasan yang mencekam
IMAN adalah burung yang bernyanyi saat fajar masih gelap
IMAN membuat semuanya mungkin
IMAN harus ditegakkan seperti layar yang mengambil kekuatan dari alam semesta
IMAN akan menjadikan manusia menjadi manusia seutuhnya sebagai khalifah di muka bumi ini.
IMAN adalah langkah pertama bahkan ketika kamu tidak melihat tangga keseluruhan
IMAN yang membawa syurga ke dalam jiwamu, jiwa yang akan mengantarmu menuju Syurga ilahi.

Tiba saatnya Ayah bicara,
Nak kelak kala kau dewasa kau boleh menjadi apa saja yang kau inginkan.
Jika nanti ILMU mengantarmu menjadi seorang Raja maka jadilah raja yang ber-IMAN
Jika nanti ILMU memahat impianmu menjadi Presiden sebuah Negara janganlah kau lupakan IMAN
Jika kelak kau ILMU membukakan jalan menjadi  ulama yang mulia, maka berantaslah segala kesesatan dengan kekuatan IMAN
Jika kelak ILMU menorehkan titah untuk menjadikanmu seorang guru, maka sampaikanlah kebaikan IMAN
Jika kelak ILMU mendulangmu menjadi mutiara panggung yang pandai berbicara, maka bicaralah berlandaskan IMAN
Jika kelak menjadi seorang penulis terkemuka, Torehkanlah tinta IMAN dalam setiap lembar bukumu!

Milikilah keduanya, milikilah ILMU dan IMAN sehingga cahaya, cahaya, cahaya yang kau inginkan akan tetap di sisimu. Cahaya yang di sisimu akan menjadi cahaya bagi manusia-manusia yang disekelilingmu.

Puisi, Tenanglah Hatiku



Tenanglah Hatiku
 Jakarta, 22 Mei 2013
Biarlah
Pelangi bercerita akan keindahannya
Senja menyanjung siang dan malam
Bunga-bunga terbuai rayuan kumbang
Cinta menyulap hitam dan putih
Tenanglah hatiku
Kalaupun langit mencercah dari kejauhan
Angin membelai dalam kehinaan
Tenanglah hatiku
Tenanglah dalam berfikir
Tenanglah dalam bekerja
Tenanglah menjaga-Nya
Hatiku tenang