Kamis, 15 Oktober 2015


Kira-kira buku apa yang dapat aku tulis dan sumbangkan untuk Indonesia?

BUKU IMPIAN


Hmm...
Pertama kali ingin menulis buku sendiri (bukan antologi), saya sangat ingin menulis pengalaman mengajarku saat bertugas si kota seribu sungai, Banjarmasin.
Saya sudah mengumpulkan berbagai gambar dan referensi lainnya yang bisa mendukung tulisanku.
Waktu itu, saya sangat terinspirasi pada buku yang ditulis oleh Mba Butet, "Sekolah Rimba".
Tapi, mungkin karena kurang sungguh-sungguh sehingga belum jadi sampai sekarang. He he... Udah berapa tahun ngendap ya... 😅
Selanjutnya, saya senang mengamati display kelas teman-teman. Tiba-tiba terpikir juga untuk buat buku tentang display.
Itu bisa memberi sumbangsih pada guru-guru yang cari inspirasi pembuatan display. Sehingga daya kreatifitas anak bangsa juga bisa lebih meningkat .
Mulailah saya mengumpulkan gambar-gambar display teman-teman. Dan, tentunya display buatan saya juga. 😉
Tapi setelah melihat buku yang berisi tata cara membuat sesuatu, eh ternyata cukup sulit juga ya...
Tekadku menyusut lagi dech.... 
Selanjutnya, saya sedang mengerjakan tesis, kebetulan bahas tentang novel.
Saya pun jadi kepikiran, "Seru kali' ya... Kalau saya menulis novel tentang tiga perempuan yang merindukan ayahnya. Di mana tiga perempuan itu adalah seorang anak, ibu, dan nenek."
Namun, sampai sekarang pun saya belum memulai menulis tentang ide itu. Wah... Payah banget ya... 😥
Nah, saat ikut kegiatan Writing Challenge ini, saya jadi mikir lagi untuk menulis buku semacamTeacher Diary gitu.
He he... Entah kapan saya akan memulai menulisnya. Apakah semua itu hanya sebatas ide? Harus semangat dan tetap optimis.

Pahlawan Penyelamat Lingkungan


Mental apa yang sebaiknya dimiliki anak Indonesia agar bisa punya konstribusi untuk negeri?



Pahlawan Penyelamat Lingkungan


Bulan Agustus kemarin, saya jadi penanggung jawab untuk membuat perencanaan kegiatan morning session di kelas 3 SD.
Biasanya di sekolah tempat saya mengajar, morning session digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang dapat menanamkan nilai-nilai karakter pada anak-anak.
Nah, tema yang diangkat waktu itu adalah Peduli Lingkungan.
Saya memulai dengan memperkenalkan jargon kepada murid-muridku.
Ketika Ibu bertanya, "Siapa Kalian?"
Kalian menjawab, "Kami adalah Pahlawan Penyelamat Lingkungan!" Agar lebih menarik, saya juga meminta mereka untuk menjawabnya sambil melakukan gerakan, seperti Super Hero. 💪
Saya membentuk mereka, menjadi beberapa tim. Dan memberikan penjelasan singkat tentang kepedulian pada lingkungan. Lalu meminta mereka untuk keliling sekolah, sambil mengamati kondisi lingkungan.
Setelah mengamati lingkungan, mereka berdiskusi untuk menyepakati hal apa yang perlu tim mereka lakukan sebagai Pahlawan Penyelamat Lingkungan.
Dari hasil kesepakatan tim, ada yang membersihkan sampah-sampah di halaman.
Ada yang pergi mengecek kran air, dan memastikan semuanya tertutup dengan baik.
Ada yang merapikan batu bata yang berserakan, tidak beraturan.
Ada yang menyiram tanaman dan membersihkan daun-daun keringnya.
😍 Wah... Sangat bangga pada mereka, para Pahlawan Penyelamat Lingkungan.
Tentunya semua itu dilakukan sambil didampingi oleh guru.
Mereka terlihat senang mengikuti kegiatan itu. Mereka antusias, bahkan berlomba-lomba melakukannya.
Setelah mereka melakukan tugas sebagai Pahlawan Penyelamat Lingkungan, mereka melaporkannya kepada guru serta mengutarakan alasan mereka merasa perlu melakukan hal tersebut.
Menurut saya, salah satu mental yang perlu kita bangun adalah kesadaran anak-anak sebagai bagian dari lingkungannya.
Kesadaran bahwa di usia yang masih kecil, mereka sudah bisa melakukan hal yang bermanfaat untuk lingkungannya.
Dengan demikian, mereka sudah mulai berlatih untuk merawat Indonesia.
Semoga di kala besar nanti, mereka tetap punya rasa tanggung jawab pada lingkungan dengan ruang lingkup yang lebih besar.
Bahkan bukan hanya Indonesia, tapi juga dunia. Bumi ini.
🌎

Aku dan Pekerjaanku




#Day1 
#Gurumenulis

Saya seorang guru. Tepatnya guru SD. Saya sangat senang dengan profesiku.
Melihat wajah polos dan tingkah lucu siswa-siswaku setiap hari, menjadi sesuatu yang selamanya akan saya rindukan.

Mereka yang terkadang melontarkan pertanyaan yang tak terduga. Membuatku harus mutar otak untuk bisa memberikan jawaban dengan bahasa yang sederhana dan bisa diterima.
Mereka yang datang dengan berbagai ekspresi(😄
😔😣😭) yang berbeda. Membuatku berusaha melucu sebisa mungkin agar bisa melihat senyum menghiasi raut wajah siswa kecilku.
Mereka yang datang dengan tulisan yang sulit terbaca, sehingga saya harus meluangkan waktu lebih untuk memotivasi.
Hmmm... Banyak lagi.
Ya, saya sangat setuju saat dulu, salah seorang dosen berkata bahwa pekerjaan paling baik bagi seorang perempuan adalah profesi guru.
Kenapa?
Karena menjadi guru, merupakan salah satu pekerjaan mulia. Pekerjaan yang menjadi penentu masa depan anak bangsa.
Pekerjaan yang dikerjakan dari pagi hingga siang/sore hari, sehingga waktu berkumpul bersama keluarga tetap ada.
Berbeda dengan pekerjaan lain yang harus pergi pagi dan pulang malam.
Profesiku yang berusaha mencerdaskan anak-anak bangsa, tentu memberi konstribusi untuk Indonesia.
Bukan hanya cerdas atau pintar, tapi juga menjadi guru kehidupan yang menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Meski saya sendiri tidak luput dari kesalahan.
Baik dan buruknya anak bangsa di masa yang akan datang menjadi tanggung jawab saya.
Dan, karena tugas mulia itu, saya selalu berusaha untuk terus belajar.

Hai, Anda. Yah, Anda yang sedang membaca tulisan ini, dalam hidup Anda pasti ada peran seorang guru bukan?
‪#‎7days‬#writingchallenge#swc

Senin, 05 Oktober 2015



GURU PEMIMPIN


Bila ditanya tentang kepemimpinan, saya sebagai guru akan menjawab, bahwa bagiku, pemimpin itu adalah ia yang saya jadikan panutan, model, dan mampu membinaku dalam menyikapi kehidupan. Jadi, bagi saya pemimpin tidak mutlak mereka yang memegang jabatan tertinggi, tapi bisa juga dia yang ada di tengah-tengah kita dengan segala tabiat baiknya, mampu membuat kita sadar akan tanggung jawab, tanpa banyak kata.  

Saya sangat miris melihat masyarakat di negara ini. Banyak yang berlomba-lomba mengejar suatu jabatan agar bisa disebut pemimpin. Tapi, bagiku pemimpin seperti itu sebenarnya bukanlah pemimpin. Mereka berkeinginan, bukan untuk menjadi pemimpin, tak lain itu hanyalah ambisi untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan.

Jelas beda, antara mereka yang sudah jadi pemimpin sebelum menempati kursi jabatan dengan mereka yang menjadi pemimpin karena telah punya jabatan.

Dan, sebagai guru, saya menyadari akan peran dan andil untuk berusaha mengubah pemikiran anak-anak kecilku sebagai pemimpin masa depan. Mereka tidak harus jadi presiden, mereka tidak harus jadi kepala kantor ini dan itu, tapi mereka harus jadi pemimpin. Aku berharap, anak-anakku kelak tidak perlu merasa rendah diri karena tidak punya jabatan untuk bisa disebut pemimpin. Tapi bagaimana mereka bisa menjadi pemimpin yang dihormati, dikagumi, dan dicintai bahkan tanpa jabatan sekali pun. Kalau pun toh, mereka punya jabatan, itu hanyalah alat untuk mempermudah dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Sehingga pemimpin masa depanku tidak perlu ada yang masuk rumah sakit jiwa hanya karena gagal menempati kursi jabatan untuk bisa disebut pemimpin.  ^_^

Kalau saya punya kesempatan untuk mengikuti pelatihan ini, bukan karena saya mempersiapkan diri untuk memegang suatu jabatan agar bisa disebut pemimpin. Tapi karena saya ingin berupaya senantiasa memperbaiki diri agar bisa jadi pemimpin, meski tanpa disebut pemimpin, meski tanpa jabatan.  


****Terimakasih***