Sabtu, 07 Mei 2016

All About Bo' Kampong Community



ALL ABOUT
BO’ KAMPONG COMMUNITY

A.    PROFIL KOMUNITAS
1.      Nama : Bo' Kampong Community
Bila dipisahkan, nama itu dapat diartikan sebagai berikut:
Bo’ berarti buku dan Kampong berarti kampung. 
2.      Logo Komunitas
Warna ungu sebagai ciri khas Massenrempulu. Simbol dari dua huruf lontara yaitu Ba dan Ka yang dimodifikasi jadi menyerupai buku yang terbuka sekaligus pegunungan.   
  
3.      Latar Belakang Didirikannya
Pernahkah Anda melihat lukisan atau foto anak pengembala yang duduk di bawah pepohonan sambil membaca buku, atau anak petani yang beristirahat di rumah ladang sambil membaca buku? Itu indah bukan?
Refleksi dari pengalaman pribadi pada masa kecil, pendiri berpikir untuk membuat suatu komunitas yang bisa bermanfaat bagi anak-anak yang ada di sekitar pegunungan. Entah tidak terbiasa atau memang karena dorongan dan fasilitas yang tidak mendukung, dari dua puluh tahun lalu peningkatan minat baca di desa serasa tak ada perkembangan. Berbeda dengan teknologi televisi yang dulunya hanya dimiliki oleh satu dua orang, sekarang malah setiap rumah punya satu dua televisi. Sangat miris...
Kurangnya motivasi membaca saat kecil dulu, membuat founder terkadang merasa ciut karena sempitnya pengetahuan yang dimiliki. Apalagi saat dia mulai meninggalkan kampung halaman dan harus unjuk kompetensi dengan teman-teman yang baru, teman-teman yang memang telah mendapat pendidikan yang jauh lebih baik. Sungguh itu sangat tidak mengenakkan, kemampuan bertahan dan keinginan berubahlah yang membuat segalanya dapat terlewati.
Tinggal di pedalaman memang suatu kendala untuk mengakses buku. Belum lagi dari segi ekonomi yang kadang tidak mendukung setiap orang untuk membeli buku. Oleh karena itu, pendiri berupaya mengajak serta pemuda dan masyarakat sekitar untuk ikut berpartisipasi agar hal serupa tidak terjadi pada generasi selanjutnya.
Berawal dari 20 eksamplar buku pribadi, founder menguatkan tekad. Founder mulai mengirim email ke penerbit-penerbit bila saja ada buku yang dijual murah atau mau disumbangkan. Selain itu, Founder juga lebih sering ke tokoh-tokoh buku loak untuk mencari-cari buku yang masih bagus dan dijual murah. Alhamdulillah, semakin hari buku semakin bertambah. Begitulah, setiap usaha pasti akan membuakan hasil.
Semoga dengan adanya komunitas yang khusus bergerak dalam bidang literasi di kaki-kaki gunung di Massenrempulu, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan ini, peningkatan minat baca bisa terus berkembang luas.
4.      Visi-Misi  

          Visi
      “Turut berperan aktif mengisi pembangunan dalam dunia pendidikan dengan menggiatkan budaya baca pada masyarakat Massenrempulu." 

           Misi 
      a. Gerakan pengadaan buku sekaligus penyalurannya ke TBM yang sudah ada atau pun TBM yang diadakan oleh Bo' Kampong. Selain disalurkan ke TBM, Bo' Kampong jg menyalurkan buku ke teman-teman yang memiliki program berbagi buku ke pelosok Massenrempulu. Bukan hanya ke TBM, tapi juga ke masjid-masjid atau mushollah, dengan harapan bisa menjadi bahan bacaan bagi imam masjid dan juga jamaah. 
      b.  Menjadi wadah untuk melakukan kegiatan positif bagi pemuda dan pemudi di desa.
6.      Motto
"Siapa pun bisa jadi apa pun dengan membaca"
7.      Penyandang Dana
Sampai sekarang penyandang dana tetap belum ada. Namun orang yang menyumbangkan buku secara personal sudah lumayan banyak. Tahun 2015 Bo' Kampong Community juga terpilih menjadi salah satu dari 100 Komunitas di Indonesia yang mendapat bantuan 500 buku dari Gramedia Pustaka. Sampai sekarang buku yang sudah diterima kurang lebih sekitar 800 eksamplar. Buku-buku tersebut sudah disalurkan, baik ke TBM, sekolah-sekolah dan masjid/mushallah juga ke tokoh masyarakat dan mahasiswa yang juga berusaha membuat perpustakaan mini lembaganya.



B.      KISAH-KISAH INSPIRATIF

Ahaa.... ^_^

Memanfaatkan Pos Ronda sebagai tempat untuk membuat TBM

 
Saat mulai membuat prototipe komunitas ini, hal yang dipertimbangkan adalah persoalan tempat untuk membuat TBM nantinya. Mau di rumah, bisa saja. Tapi pengunjungnya mungkin tidak akan banyak karena rumah founder agak jauh dari rumah-rumah penduduk lain. Akhirnya muncullah ide untuk membuat TBM di Pos Ronda yang sudah lama tidak digunakan. Biasanya pos ronda itu juga jadi tempat persinggahan masyarakat yang pergi atau pulang dari kebunnya.
Saya segera pergi beli cat dan tripleks lalu membersihkan Pos Ronda itu. Bukan hanya saya, adik-adik, orang tua, dan tetangga juga ikut membantu. Sehari kemudian, kami mulai menyusun buku-buku yang sudah ada untuk dipajang.
          Nah... semoga dapat menginspirasi. Ayo, multifungsikan pos ronda yang hampir selalu ada di setiap dusun. Namun ada kendala yang perlu dipertimbangkan, yakni tingkat keamanan dan pembagian petugas untuk bergantian menjaga TBM.



Ahaa.... ^_^

Anak-anak yang antusias merapikan dan mengatur buku setiap hari.

           
Hal yang patut disyukuri selanjutnya adalah antusias anak-anak untuk menyusun buku. Jadi pada dasarnya keinginan manusia untuk bisa memberi manfaat itu harus kita hargai. Pagi-pagi sekali – waktu itu lagi liburan, biasanya sudah ada yang datang untuk menyusun buku. Dan pujian sudah cukup bagi mereka. Jadi pengelolah, jangan menggap anak-anak hanya bisa baca saja loh ya... tapi memberi kepercayaan kepada mereka akan mengajari untuk bertanggung jawab.


Ahaa...

Peresmian dilakukan dengan kegiatan kreatif yang dapat mengumpulkan massa
 
 

Saat sudah jadi, kami memikirkan bagaimana agar keberadaan TBM tersebut bisa diketahui oleh masyarakat sekitar yang lebih luas. Muncullah ide untuk melakukan suatu kegiatan yang mengundang anak-anak. Kegiatan yang dilaksanakan saat itu adalah kegiatan Sekolah Ramadhan Ceria yang sekaligus di rangkaikan dengan kegiatan peresmian.



Ahaa....
One person one book
 
           
One Person One Book ini adalah salah satu program yang dilakukan pada tahun 2015. Kegiatan itu merupakan saran dari Kanda Siswanto Rawali. Pada saat itu komunitas Massenrempulu akan mengadakan reuni dan pada kegiatan tersebut Bo’ Kampong Community mengumpulkan buku yang dibawa oleh peserta reuni. Namun karena kurangnya sosialisasi, buku yang terkumpul saat itu, jauh dari yang diekspektasikan. Namun, kami tetap mensyukuri. Setidaknya sebagai ajang sosialisasi keberadaan Bo’ Kampong Community. ^_^

   
Aha....
Kafe Baca 

Setelah dipikir-pikir, konsep yang paling tepat untuk Massenrempulu sebagai penghasil kopi dalam mengembangkan minat baca, salah satunya adalah KBM (Kafe Baca Massenrempulu.
Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Itulah kata yang dapat mewakili. Di samping menarik minat pembaca, juga memberi penghasilan, bisa sebagai tempat silaturrahim dan diskusi ringan. Cocok banget buat masyarakat yang ingin punya tempat rehat berkualitas.
Itu berdasarkan pengalaman dari TBM yang pernah didirikan, namun harus tutup karena tidak ada pengelola yang tetap standby. Mengapa tidak ada yang standby, karena mereka harus mencari penghasilan untuk biaya hidup mereka. Ya... Mungkin dengan pengelolaan yang lebih baik, hal seperti di atas tidak terjadi. Jadi, bagi teman-teman yang tetap punya keinginan untuk mendirikan TBM, ya... Silakan, insyaallah dengan pengelolaan yang baik itu akan tetap bertahan.
So... Buat teman-teman yang mau mendirikan KBM, silakan direalisasikan. Semoga Bo' Kampong bisa menyalurkan buku dari para donatur.
Ha ha... Bisa Kebayang kalau semua Kafe atau warung di Massenrempulu punya Reading Corner. Waw... Amazing bukan? Massenrempulu bisa dikenal sebagai kabupaten cerdas literasi, Kabupaten seribu KBM. Namun, sampai sekarang baru satu yang bisa didirikan. Angka seribu, diawali oleh angka satu bukan? ^_^



                  C.    KEGIATAN-KEGIATAN

1.      Pendirian Taman Baca Masyarakat

 


2.   Penyaluran buku ke tokoh masyarakat, mahasiswa, sekolah-sekolah, dan masjid.



3.      Sekolah Ramadhan Ceria


4. Penerimaan Bantuan Buku 

 

 





Jl. Poros Malua
Kecamatan Malua, Kabupaten Enrekang, Sul-Sel
CP: 085386527427/085397188483
Facebook : TBM_Bo' Kampong Community
Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=imZuORO48_I