Minggu, 01 Juni 2014

Membaca Tulisan Mantan Wartawan Jauh Lebih Bermakna. Tanya Mengapa?


Membaca tulisan mantan wartawan jauh lebih bermakna. Tanya kenapa?
Membaca tulisan mantan wartawan itu, benar-benar luar biasa seperti mencungkil benda berharga yang tersimpan dalam gunung batu. Kritis, berani, dan dari hati nurani tanpa topeng apa pun. Mengapa harus menunggu sampai berhenti menjadi wartawan? Mungkin seperti itulah jalan hidup yang harus dijalani.
Banyak orang yang bosan bahkan memberi tendensi negatif  melihat liputan wartawan dalam media apa pun, on line, surat kabar, televise, dan radio hampir sama saja. Semuanya hanya menyuarakan suara pejabat atau politisi. Bahkan tak jarang mereka meramaikan aib para artis. Katanya jurnalistik itu bertugas untuk menyuarakan orang-orang yang tak bersuara atau mereka yang suaranya jarang didengar. Tapi mana? Mana? Mana? Kalau pun ada, paling jadi topik pinggiran.
Entah ini suatu kekeliruan pandangan para wartawan. Mungkin juga ketidaktahuan mereka terhadap prinsip keberadaannya, untuk apa mereka ada? Atau apakah mereka lupa?
Suara para pejabat terlalu banyak disuarakan. Sementara suara orang kebanyakan, petani, nelayan, buruh, apalagi yang bekerja di tempat-tempat terpencil jarang sekali disuarakan.
“Mungkin karena lagi pesta demokrasi.” Pesta demokrasi bukan berarti harus banyak menyuarakan suara para politisi. Hal itu hanya akan menekan para pengincar kursi jabatan untuk menebar janji. Tanpa disuarakan sekali pun mereka sudah punya banyak uang untuk memasang iklan, baliho, relawan ciber dan apa pun itu untuk menggemurukan suara mereka.  Ma’af, Inilah letak kekeliruan para wartawan masa kini! Bahkan, wartawan seperti tak lagi punya harga diri. Profesi sebagai wartawan seolah-olah hanya menjadi ajang pencarian nafkah.  Lihat saja, yang menjadi berita utama hanya para pejabat. Tanya mengapa? Pesta demokrasi adalah pesta para pejabat dan calon pejabat. Bukan pesta rakyat!
Pesta demokrasi bukanlah tempat untuk memanen suara para calon pejabat. Tapi, itu adalah moment untuk menyuarakan harapan masyarakat. Impian rakyat Indonesia. Tempat untuk mendengar keluhan rakyat Indonesia. Moment untuk mendengar kritikan-kritikan mereka. Memperdengarkan suara rakyat kecil yang sangat jarang terdengar dari pulau terpencil sampai ke petak-petak kardus di pusat kota. Bahkan sampai suara para TKI yang ada di luar negeri sekali pun. Itulah yang harus disuarakan di pesta demokrasi ini. Mengapa? Agar mereka, para pejabat tau dan menyadari tanggung jawab besar yang ada dihadapan mereka. Agar kelak, suara-suara itu senantiasa mengiring langkah mereka dalam menjalankan amanah dari rakyat.
Bagaimana mungkin mereka, para calon pejabat memberikan solusi yang relevan bila tak mendengarkan suara rakyatnya. Lalu, bagaimana mungkin mereka bisa mendengar suara rakyat bila yang menjadi berita utama setiap harianya adalah suara mereka sendiri. Dan untuk ke sekian kalinya, ini adalah tugas dan kewajiban wartawan. Kesejalanan antara tujuan rakyat dan pejabat, juga ada di tangan para wartawan.
Wahai wartawan yang baik, yang memiliki tugas yang mulia. Kembalilah pada tugas muliah itu. Datanglah, dengarkan, dan suarakanlah kepedihan yang kami rasakan. Suarakan harapan yang selama ini tak berani kami ungkapkan. Kabarkan seperti apa kehidupan rakyat kecil ini. Kabarkan kepada mereka, seperti apa jalan berlumpur yang ditempuh menuju sekolah yang reot. Kabarkan lumbung padi yang sudah kosong sebelum masa panen tiba atau karena gagal panen. Kabarkan seperti apa kapal laut yang ditumpangi, kapal yang pengap dengan bau muntah dan toilet yang mampet. Ini jelas memperlakukan rakyat yang tak mampu naik pesawat seperti tawanan perang. Kabarkan tentang penyiksaan TKI yang menjalani perbudakan yang tidak manusiawi.
Wahai wartawan yang baik, kembalilah pada jati diri wartawan sejati. Bukan wartawan yang berada dalam genggaman pemilik media. Suarakanlah yang ada di hati nurani, suarakanlah dengan jujur dan bebas.

*Sekadar opini orang awam. ^_^