Membaca tulisan mantan wartawan jauh lebih bermakna. Tanya
kenapa?
Membaca tulisan mantan wartawan itu, benar-benar luar biasa
seperti mencungkil benda berharga yang tersimpan dalam gunung batu. Kritis,
berani, dan dari hati nurani tanpa topeng apa pun. Mengapa harus menunggu sampai
berhenti menjadi wartawan? Mungkin seperti itulah jalan hidup yang harus
dijalani.
Banyak orang yang bosan bahkan memberi tendensi negatif melihat liputan wartawan dalam media apa pun,
on line, surat kabar, televise, dan radio hampir sama saja. Semuanya hanya
menyuarakan suara pejabat atau politisi. Bahkan tak jarang mereka meramaikan
aib para artis. Katanya jurnalistik itu bertugas untuk menyuarakan orang-orang
yang tak bersuara atau mereka yang suaranya jarang didengar. Tapi mana? Mana?
Mana? Kalau pun ada, paling jadi topik pinggiran.
Entah ini suatu kekeliruan pandangan para wartawan. Mungkin
juga ketidaktahuan mereka terhadap prinsip keberadaannya, untuk apa mereka ada?
Atau apakah mereka lupa?
Suara para pejabat terlalu banyak disuarakan. Sementara
suara orang kebanyakan, petani, nelayan, buruh, apalagi yang bekerja di
tempat-tempat terpencil jarang sekali disuarakan.
“Mungkin karena lagi pesta demokrasi.” Pesta demokrasi bukan
berarti harus banyak menyuarakan suara para politisi. Hal itu hanya akan
menekan para pengincar kursi jabatan untuk menebar janji. Tanpa disuarakan
sekali pun mereka sudah punya banyak uang untuk memasang iklan, baliho, relawan
ciber dan apa pun itu untuk
menggemurukan suara mereka. Ma’af, Inilah
letak kekeliruan para wartawan masa kini! Bahkan, wartawan seperti tak lagi
punya harga diri. Profesi sebagai wartawan seolah-olah hanya menjadi ajang
pencarian nafkah. Lihat saja, yang
menjadi berita utama hanya para pejabat. Tanya mengapa? Pesta demokrasi adalah
pesta para pejabat dan calon pejabat. Bukan pesta rakyat!
Pesta demokrasi bukanlah tempat untuk memanen suara para
calon pejabat. Tapi, itu adalah moment untuk menyuarakan harapan masyarakat.
Impian rakyat Indonesia. Tempat untuk mendengar keluhan rakyat Indonesia. Moment
untuk mendengar kritikan-kritikan mereka. Memperdengarkan suara rakyat kecil
yang sangat jarang terdengar dari pulau terpencil sampai ke petak-petak kardus
di pusat kota. Bahkan sampai suara para TKI yang ada di luar negeri sekali pun.
Itulah yang harus disuarakan di pesta demokrasi ini. Mengapa? Agar mereka, para
pejabat tau dan menyadari tanggung jawab besar yang ada dihadapan mereka. Agar
kelak, suara-suara itu senantiasa mengiring langkah mereka dalam menjalankan
amanah dari rakyat.
Bagaimana mungkin mereka, para calon pejabat memberikan
solusi yang relevan bila tak mendengarkan suara rakyatnya. Lalu, bagaimana
mungkin mereka bisa mendengar suara rakyat bila yang menjadi berita utama
setiap harianya adalah suara mereka sendiri. Dan untuk ke sekian kalinya, ini
adalah tugas dan kewajiban wartawan. Kesejalanan antara tujuan rakyat dan
pejabat, juga ada di tangan para wartawan.
Wahai wartawan yang baik, yang memiliki tugas yang mulia.
Kembalilah pada tugas muliah itu. Datanglah, dengarkan, dan suarakanlah
kepedihan yang kami rasakan. Suarakan harapan yang selama ini tak berani kami
ungkapkan. Kabarkan seperti apa kehidupan rakyat kecil ini. Kabarkan kepada
mereka, seperti apa jalan berlumpur yang ditempuh menuju sekolah yang reot. Kabarkan
lumbung padi yang sudah kosong sebelum masa panen tiba atau karena gagal panen.
Kabarkan seperti apa kapal laut yang ditumpangi, kapal yang pengap dengan bau
muntah dan toilet yang mampet. Ini jelas memperlakukan rakyat yang tak mampu
naik pesawat seperti tawanan perang. Kabarkan tentang penyiksaan TKI yang
menjalani perbudakan yang tidak manusiawi.
Wahai wartawan yang baik, kembalilah pada jati diri wartawan
sejati. Bukan wartawan yang berada dalam genggaman pemilik media. Suarakanlah
yang ada di hati nurani, suarakanlah dengan jujur dan bebas.
*Sekadar opini orang awam. ^_^
