Alhamdulillah, inilah
keajaiban di waktu sahur yang semoga mendapat berkah dari-Nya. ^_^
Memang
ya, bangun dini hari itu sesuatu. Tetiba saja ada teman di grup yang menawarkan
tiket untuk menghadiri Seminar Kepenulisan. Mana pembicaranya penulis-penulis
hebat lagi. Cihui... Let's Go!
Wah
keren nich,,, gumamku saat melihat brosur ini.
Meski belum tahu persis dimana tempatnya, saya tetap bergegas
dan memastikan bahwa untuk kali ini saya tidak boleh terlembat. Saya tidak
ingin melewatkan sedikit moment pun dari tiga penulis hebat itu. Dengan
berbekal map di handphone, sambil bertanya-tanya pada teman dan petugas Trans
Jakarta, lalu dilanjutkan dengan naik ojek, akhirnya saya sampai juga di
tujuan, Kompas Gramedia. —
atKompas Gramedia.
Saya dan peserta lainnya menunggu di depan pintu yang
ternyata belum terbuka. "Yess... aku tidak terlambat." Kapok karena
pernah terlambat mengikuti seminar pada satu pekan sebelumnya. Memang membina
karakter disiplin itu harus sepanjang masa sepertinya.
Aku berusaha mengatur nafas - tadi jalannya sambil
berlari-lari kecil, soalnya. Hi hi hi...
Beberapa menit
kemudian kami dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan. Hmm... saya dan
seorang teman (kenalan baru yang bernama Irma) langsung memilih kursi bagian
tengah. Acara dipandu oleh motivator hebat juga loch, Mas Ardi Gunawan. Beliau
memulai acara dengan menyapa para peserta dan tentunya memperkenalkan diri agar
lebih terkenal... wk wk wk...
Meski agak gokil gitu, beliau tetap berpesan agar kita
yang tinggal jauh dari orang tua, sebisa mungkin menelepon orang tua setiap
hari, insyaAllah rezekinya akan semakin mengalir. Aamiin...
"Itu mengingatkanku pada salah satu point dalam
Buku 7 Keajaiban Rezeky." Gumamku.

Yuhu...
setelah senam otak kanan bersama Mas Ardi Gunawan, acara langsung dilanjutkan
dengan menghadirkan Mas A. Fuadi. Ho ho... low profil banget nich orang. Tapi
karyanya high banget Bo'.
Akhirnya bertemu juga dengan beliau, beliau yang aku baca bukunya sekitar tahun
2010. Kebetulan saat itu ada teman yang menjadikan bukunya sebagai bahan
skripsi. Lalu kutonton filmnya pada tahun 2012 di Duta Mal, Banjarmasin bersama
seorang siswaku yang hebat, Maghfiro. Nggak nyangka bisa belajar langsung pada orangnya.
Beliau membawakan
materi dengan sangat tenang namun berisi.
Kesempatan kali ini beliau membahas bagaimana
cara "Menulis untuk Mendunia"
"Semua yang saya dapatkan sekarang berasal
dari satu kalimat ajaib; MAN JADDA WA JADA"
Kami pun diminta untuk ikut mengucapkan kata itu,
"MAN JADDA WA JADA!".
"Menulis hanya butuh satu hal, yang pertama
sebatang polpen, yang kedua secarik kertas, yang ke tiga..." Beliau diam
sejenak sambil menunggu jawaban dari peserta.
"Butuh tinta, ide, kata-kata...." peserta
berusaha menjawab. Lalu dengan mantap, A.Fuadi menjawab, "Yang ketiga
adalah Sebongka Hati." Sontak semua peserte berseru riang. kiki emoticon
"Bagi saya, tulisan itu lebih kuat dari pada
peluru." Beliau melanjutkan, "Mengapa saya katakan lebih kuat dari
pada peluru, karena peluru saat dilepaskan hanya bisa berhenti di satu kepala.
Sedangkan tulisan, tidak akan berhenti di satu kepala dan tidak hanya satu
waktu tapi lagi, lagi, dan lagi. Melintas zaman, melitas geografi."
"Bagi saya, tulisan adalah karpet terbang yang
memerdekakan untuk melintas batas. Dengan menulis saya bisa mengunjungi
berbagai negara dengan berbagai beasiswa. Menghadiri undangan untuk menjadi
pembicara di hadapan mereka yang menjadikan Novel Negeri 5 Menara sebagai teks
wajib perkuliahan." Lanjutnya sambil menunjukkan berbagai foto-fotonya
dari berbagai negara. Salah satu kota yang dikunjunginya adalah Cardoba, oh my
God. Kapan saya bisa kesana?
Tipsnya, "Tulislah sesuatu yang menarik bagi
orang asing."
Untuk materinya kurang lebih berikut ini.
BAGAIMANA AGAR TULISAN MENDUNIA?
1. Angkat tema tentang sesuatu yang khas Indonesia.
Indonesia punya 17.000 keunikan yang bisa kita ceritakan dari Sabang sampai
merauke.
2. Hal yang paling menarik bagi orang asing adalah
keberagaman yang ada di Bangasa kita, kekhasan dari setiap daerah yang di
negara mereka sendiri tidak ada. Gali budaya, bahasa, agama, legenda, alam dll.
3. Terjemahkan ke bahasa lain. Setelah Anda punya
karya, terjemahkanlah ke bahasa Inggris/Arab/Prancis, dan lainnya. Penerjamahan
bisa dilakukan dengan dua cara.
a. Terjemahkan sendiri, cari teman/orang yang bisa
membantu untuk menerjemahkan.
b. Cari penerbit lua yang mau menerjemahkan.
4. Aktif kenalkan karya di acara-acara
internasional. Tidak usah menunggu untuk diundang, undang diri sendiri saja
dulu. Nanti kalau udah dikenal baru diundang. Contoh kegiatannya misalnya UWRF
di Ubud Bali. Bangun network. Bawa buku Anda ke mana pun, kemudian ditawarkan/dipromosikan.
5. Gunakan sosial media. Jangan anggap remeh
facebook, justru menurut saya facebook itu yang stabil.
6. Pelajari hal-hal yang khas dari penulis lainnya.
Misalnya seperti Andrea Hirata, Pramudya, Asma Nadia, dll.
PROSES MENULIS SAYA (A. Fuadi)
1. ''WHY"
Kenapa saya menulis? Niat saya apa? Dalam hal ini,
cukup diri sendiri dan Tuhan yang tahu. ini dialog internal.
2. "WHAT"
Tulislah apa yang kita tahu, kita suka, kita
cintai, dan peduli akan menjadi obat buat tulisan.
3. "How"
Menulis novel juga harus dilakukan dengan melakukan
reset melalui wawancara, ngobrol, baca buku lain yang relevan, kunjungi tempat
yang ingin diceritakan, kumpulkan dokumentasi berupa foto dan surat, buka
kembali diary, dll.
4. "WHEN"
Cicil setiap hari. Sedikit demi sedikit. Hal yang
sangat mungkin untuk menulis satu novel dalam satu tahun.
Silahkan berkarya, semoga tahun depan kita bisa
bertemu lagi dan yang hadir pada saat ini sudah punya karya masing-masing.
Jangan lupa, setelah jadi buku, pikirkan bagaimana
caranya agar buku tersebut bisa dinikmati dalam bentuk yang lain. Misalnya jadi
film, komik, dan lagu. tentu saja, ini untuk karya yang di dalamnya ada nilai
yang kuat.
Nah ini dia nich foto
kampung halaman Ahmad Fuadi. Bayur Maninjau, Sumatera Barat.
Nah, yang mau
kontak-kontakan sama beliau, ini dia nich alamatnya mulai dari PIN BB sampai ke
email.
Oh ya, bagi teman-teman yang punya karya dan
bingung mau diterbitkan di mana, boleh dikirim ke penerbit beliau nich, 5
Menara Literary Agent. Tidak semua bakal diterbitkan sich... tapi apa salahnya
mencoba.
Uda Ahmad Fuadi dan
Mas Ippho Santosa. Yang satu peserta yang aku belum kenal.
Hanya yang tiket PIV yang
bisa foto bareng. Jadi ya.... harus bersabar and keep smile menjadi pemotret saja. :)
Oh ya, sesuatu yang keren menurut saya. Mereka
masih punya waktu untuk berbagi di tengah kesibukan. Hasil penjualan tiketnya
100 persen untuk kegiatan sosial. Dan mereka juga punya lembaga-lembaga sosial khusus untuk berbagi dengan sesama, seperti sekolah dan taman baca. Keren kaaa...n...
Wah emang beda aurahnya kalau yang bicara seorang motivator. he he...
itu komentarku saat Mas Ippho baru tampil."
"Bapak ibu harus siap memiliki tiga buku. Yang
pertama, buku nikah, yang ke dua, buku tabungan, dan yang ke tiga adalah buku
yang kita tulis sendiri. Jangan hanya buku yaasiiin yang banyak dicetak di Indonesia."
Semua peserta sontak tertawa.
"Bahkan kalau bisa jangan mati sebelum menulis buku
sendiri."
"Kenapa mereka?
dan ada apa dengan mereka?"
KARENA POTENSI YANG BESAR HANYA DIANUGERAHKAN
KEPADA MEREKA YANG BERMISI BESAR.
BAGAIMANA
SAYA MENULIS?
"Awalnya saya dipaksa menulis. Itu bermula dari tempat saya bekerja, dan
saya harus menulis di buletinnya. Kemudian dari tulisan itu ternyata ada yang
melirik dan menawarkan untuk dimuat di koran. Dari situ saya mulai menelepon ke
berbagia redaksi yang ada di Indonesia. Awalnya jangan pikir berapa duitnya!
Tujuannya bagaimana hidup bisa bermanfaat. Alhamdulillah banya yang memuat. Hampir
setiap tulisan saya dimuat, saya menyertakan nomor hp. saya selalu siap
menerima kritikan. itu akan menjadi alat ukur seberapa besar yang minat pada
tulisan yang kita tulis. Dan saya juga termasuk orang yang paling sering
melakukan editing pada tulisan saya setiap ada yang memberikan kritikan saya
tinjau ulang kebenarannya lalu memperbaikinya. Dan akhirnya pada tahun 2005.
buku pertama saya dicetak di gramedia pustaka utama."
AGAR
GO NASIONAL
1.
Mulai dari kanan
-Intention
(niat) yang harus kuat dan benar.
-Randomses
Tidak
harus menulis sesuatu yang khusus. acak saja dulu untuk memualainya. Apa saja
isinya, bagaimana pun bentuknya, tulis saja dulu. Nanti sambil jalan baru
temulkan passionnya. Saya pun di awal, tidak menyangkan bahwa saya akan menjadi
motivator.
2.
Berbeda
-Segement
or opportunity -> cari sesuatu yang berbeda dengan yang telah ditulis oleh
kebanyakan orang lain. Kalau bisa punya brand sendiri.
Branding
bukanlah sesuatu yang kebetulan tapi harus ditata.
Passion+competence
-> Senang, ide mengalir saat menuliskannya, dan punya kemampuan dalam bidang
tersebut.
Appearance
+ Wording -> Pendongkrak. Harus mencari sesuatu yang bisa membuat kita lebih
termotivasi sehingga jenjang karir kepenulisan kikta bisa berjalan lebih cepat.
3.
Leverage/pengaruh
-Print
atau broadcas media
Lihat
kemampuan kita, apakah lebih ke print (menulis) atau ke bicara siaran di tV
atau radio.
-Website
dan sosial media.
Pandai-pandailah
menggunakan sosial media untuk mendukung kemampuan kita.
-
certification. award, & celebrity

Nah ini contoh judul
yang menarik. begitu juga dengan sampulnya.
Untuk menjadi buku
best seller, tentu tidak mudah. ini dia nih, kiat-kiatnya.
Oh ya... yang mau
dicoaching langsung oleh Ippho untuk menyelesaikan buku, ini dia materi yang bisa
didapatkan.
Nah ini dia lembaganya Ippho Santosa

Pembicara ke tiga
adalah Mba Asma Nadia.
Ada hal yang menarik saat beliau memperkenalkan
diri. Beliau langsung menampilkan foto suaminya lalu berkata, "Ke mana pun
saya membawakan seminar, saya selalu menampilkan foto suami saya. Karena saya
sadari bahwa seorang istri tidak boleh keluar tanpa izin suaminya." Beliau
juga memperlihatkan foto anak-anaknya yang sedang memegang tulisan hasil
karyanya.
"Subhanallah, benar-benar keluarga penulis
ya..." kataku dengan sponta pada teman yang ada di sampingku.
Kemudian beliau melanjutkan perkenalan dengan
menceritakan bahwa dirinya dulu hanyalah seorang anak pinggir rel kereta yang
sakit-sakitan bahkan memutuskan untuk berhenti kuliah di IPB pada semester 2
karena penyakit yang dideritanya. Ternyata di balik semua itu, Allah telah
punya rencana lain yang istimewa untuknya. Asma selalu percaya bahwa,
"Allah telah memberi segala untuk jadi luar biasa."
Penulis yang menjadikan tulisan sebagai tiket untuk
berkunjung ke 60 negara, 288 kota ini mencoba untuk meyakinkan peserta seminar
bahwa Allah tidak melihat siapa orangnya, tapi melihat usahanya untuk menggapai
sesuatu dan pantang menyerah pada keterbatasan."
Beliau pun menceritakan kisah seorang penyapu
jalanan yang menjadi presiden. Yang setelah aku lihat di WikiPedia bernama Lee
Myung Bak. "Bahkan seorang penyapu jalanan pun bisa jadi presiden."
Mba Asma berusaha meyakinkan peserta.

Okey... lanjut masuk
ke materi inti.
BEHIND EVERY BOOK
1. Buku bukanlah sekadar ide. Semua orang yang
normal di dunia ini pasti punya ide, tapi apakah semuanya punya buku? Tidak.
2. Adanya keresahan. Ini yang menjadi pendongkrak
bagi saya untuk banyak menulis. Keresahan. Lalu Memperlihatkan berbagai Novel
dan buku yang telah ditulisnya sambil menjelaskan latar belakang yang
membuatnya mengangkat cerita tersebutbmenjadi tulisan.
"Satu hal lagi, saya menulis juga sebagai
wasiat untuk anak-anak saya. Saya tidak tau kapan ajal akan menjemput saya.
Namun saya berharap, ketika saya pergi kelak mereka selalu merasakan keberadaan
saya dalam buku-buku yang telah saya tulis. Saat mereka berusaha menjadi
Muslimah yang baik, tinggal buka buku Salon Kepribadian, kalau menghadapi
masalah dan hampir putus asa mereka bisa membaca buku Ayahnya yang berjudul No
Excuse, ketika mereka menghadapi masalah dalam pernikahan, mereka tinggal
membaca buku Catatan Hati Seorang Istri, dan begitu juga buku-buku yang
lainnya." Mba Asma menyampaikan dengan semangat. Menjadikan tulisan
sebagai warisan. Keren... kiki emoticon
3. Buku itu kebutuhan, bukan sekadar bacaan untuk
hiburan. Tapi bagaimana kemudian seorang menjadikan buku sebagai kebutuhan
karena adanya nilai yang menuntun di dalamnya. Tentu harus update juga
mengikuti zaman. Jadi penulis harus peka melihat apa yang sedang tren di
masyarakat. Berdakwa melalui tulisan, tidak harus melulu menjadi tanggung jawab
penulis buku agama bukan?
5. Menulis itu berjuang untuk berbagi. Ada nilai
yang diangkat, dibutuhkan, dan mudah dipahami oleh pembaca. Gunakan kata-kata
yang sederhana saja. Tidak usah beranggapan bahwa tulisan yang bagus adalah
tulisan yang luar biasa kata-katanya dan membingungkan pembaca.
6. Mulailah dengan menulis pengalaman.
"Tulisan pertama saya dedikasikan kepada Ibu saya sebagai orang yang
paling berjasa dalam hidup saya. yang rela untuk tidak makan siang hanya agar
bisa membelikan saya buku untuk saya baca saat terbaring di rumah sakit."
Mba Asma kembali mengenang masa lalunya. Hiks.. hiks... saya jadi terharu. ;(
DOSA PENULIS PEMUDA
1. Judul
Judul jangan terlalu panjang dan jangan terlalu
pendek. Judul yang terlalu panjang kadang membuat pembaca tidak penasaran
karena sudah tergambar jelas di judul. Sedangkan kalau terlalu pendek, itu
kurang menarik. kecuali kalau Anda sudah penulis sesepu yang sudah dikenal.
Misalnya judul Assalamualaikum Beijing. Seandainya hanya terdiri dari satu
kata, Assalamuaalaikum saja atau Beijing saja, pasti kurang menarik. Tapi
karena digabungkan, Jadilah judul itu sesuatu yang menggelitik pembaca untuk
mengetahui.
2. Opening yang tidak menarik.
Nah, ini yang memang perlu dilatih. Mendeskripsikan
tempat dan keadaan boleh, tapi pastikan itu sesuatu yang berbeda, jarang
dirasakan oleh orang lain dan tidak sering muncul dalam tulisan buku-buku yang
lainnya.
3. Gagal Fokus
Penulis harus tetap fokus pada tulisannya. kalau
pun ada ide lain, cukup tulis ideanya dan keep. Pilihlah ide yang
diprioritaskan sampai selesai. Jangan banyak ide, tapi tidak ada yang selesai.
4. Bertele-tele
Penulis jangan terlalu banyak bercerita datar tanpa
konflik, atau tanpa ada sesuatu yang membuat pembaca memiliki emosi yang tetap
sama. Sudah baca 10 halaman misalanya, tapi belum ada perubahan situasi yang
menegangkan, mengharukan, lucu, dan lainnya.
5. Konflik tidak menarik.
Upayakan konflik disampaikan semenarik mungkin.
6. Pesan verbal
Hindari menggunakan terlalu banyak pesan verbal,
itu bisa membuat pembaca merasa digurui. Tapi biarkan pembaca sendiri yang
menemukan/menyadari pesan yang ingin disampaikan.
7. Ending yang tidak menarik
Pada tahun 90-an hampir semua cerpen yang ditulis
remaja itu berakhir dengan tragis, semuanya mati pula. Padahal banyak hal-hal
imaginatif lainnya yang bisa dijadikan ending cerita.
8. hal teknis dalam menulis
Ini terkait dengan EYD yang digunakan serta
penggunaan kalimat yang susah dipahami.
TIPS MENULIS
1. Menemukan Why, kenapa saya menulis ini?
2. Menulis hal yang baik dan bisa meninggalkan
pesan.
3. Cari cara, waktu dan ciptakan suasana yang bisa
membuat kita seenak mungkin dalam menulis.
4. Menulis jangan sambil mengedit.
5. Menghukum diri bila waktu menulis terlewatkan.
6. Buka mata, buka telinga, buka hati. Dengarkanlah
orang yang curhat.
7. Jangan pernah menulis sesuatu yang akan
disesali.
8. Bangun kesabaran dan keuletan untuk tulisan yang
lebih baik. Bukan untuk menjadikan buku lebih tebal, tapi bagaimana usaha kita
agar tulisan itu bisa membukakan pintu rezeki lainnya buat kita.
#Ada saran/kritik? --> 085386527427