Kamis, 15 Oktober 2015


Kira-kira buku apa yang dapat aku tulis dan sumbangkan untuk Indonesia?

BUKU IMPIAN


Hmm...
Pertama kali ingin menulis buku sendiri (bukan antologi), saya sangat ingin menulis pengalaman mengajarku saat bertugas si kota seribu sungai, Banjarmasin.
Saya sudah mengumpulkan berbagai gambar dan referensi lainnya yang bisa mendukung tulisanku.
Waktu itu, saya sangat terinspirasi pada buku yang ditulis oleh Mba Butet, "Sekolah Rimba".
Tapi, mungkin karena kurang sungguh-sungguh sehingga belum jadi sampai sekarang. He he... Udah berapa tahun ngendap ya... 😅
Selanjutnya, saya senang mengamati display kelas teman-teman. Tiba-tiba terpikir juga untuk buat buku tentang display.
Itu bisa memberi sumbangsih pada guru-guru yang cari inspirasi pembuatan display. Sehingga daya kreatifitas anak bangsa juga bisa lebih meningkat .
Mulailah saya mengumpulkan gambar-gambar display teman-teman. Dan, tentunya display buatan saya juga. 😉
Tapi setelah melihat buku yang berisi tata cara membuat sesuatu, eh ternyata cukup sulit juga ya...
Tekadku menyusut lagi dech.... 
Selanjutnya, saya sedang mengerjakan tesis, kebetulan bahas tentang novel.
Saya pun jadi kepikiran, "Seru kali' ya... Kalau saya menulis novel tentang tiga perempuan yang merindukan ayahnya. Di mana tiga perempuan itu adalah seorang anak, ibu, dan nenek."
Namun, sampai sekarang pun saya belum memulai menulis tentang ide itu. Wah... Payah banget ya... 😥
Nah, saat ikut kegiatan Writing Challenge ini, saya jadi mikir lagi untuk menulis buku semacamTeacher Diary gitu.
He he... Entah kapan saya akan memulai menulisnya. Apakah semua itu hanya sebatas ide? Harus semangat dan tetap optimis.

Pahlawan Penyelamat Lingkungan


Mental apa yang sebaiknya dimiliki anak Indonesia agar bisa punya konstribusi untuk negeri?



Pahlawan Penyelamat Lingkungan


Bulan Agustus kemarin, saya jadi penanggung jawab untuk membuat perencanaan kegiatan morning session di kelas 3 SD.
Biasanya di sekolah tempat saya mengajar, morning session digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang dapat menanamkan nilai-nilai karakter pada anak-anak.
Nah, tema yang diangkat waktu itu adalah Peduli Lingkungan.
Saya memulai dengan memperkenalkan jargon kepada murid-muridku.
Ketika Ibu bertanya, "Siapa Kalian?"
Kalian menjawab, "Kami adalah Pahlawan Penyelamat Lingkungan!" Agar lebih menarik, saya juga meminta mereka untuk menjawabnya sambil melakukan gerakan, seperti Super Hero. 💪
Saya membentuk mereka, menjadi beberapa tim. Dan memberikan penjelasan singkat tentang kepedulian pada lingkungan. Lalu meminta mereka untuk keliling sekolah, sambil mengamati kondisi lingkungan.
Setelah mengamati lingkungan, mereka berdiskusi untuk menyepakati hal apa yang perlu tim mereka lakukan sebagai Pahlawan Penyelamat Lingkungan.
Dari hasil kesepakatan tim, ada yang membersihkan sampah-sampah di halaman.
Ada yang pergi mengecek kran air, dan memastikan semuanya tertutup dengan baik.
Ada yang merapikan batu bata yang berserakan, tidak beraturan.
Ada yang menyiram tanaman dan membersihkan daun-daun keringnya.
😍 Wah... Sangat bangga pada mereka, para Pahlawan Penyelamat Lingkungan.
Tentunya semua itu dilakukan sambil didampingi oleh guru.
Mereka terlihat senang mengikuti kegiatan itu. Mereka antusias, bahkan berlomba-lomba melakukannya.
Setelah mereka melakukan tugas sebagai Pahlawan Penyelamat Lingkungan, mereka melaporkannya kepada guru serta mengutarakan alasan mereka merasa perlu melakukan hal tersebut.
Menurut saya, salah satu mental yang perlu kita bangun adalah kesadaran anak-anak sebagai bagian dari lingkungannya.
Kesadaran bahwa di usia yang masih kecil, mereka sudah bisa melakukan hal yang bermanfaat untuk lingkungannya.
Dengan demikian, mereka sudah mulai berlatih untuk merawat Indonesia.
Semoga di kala besar nanti, mereka tetap punya rasa tanggung jawab pada lingkungan dengan ruang lingkup yang lebih besar.
Bahkan bukan hanya Indonesia, tapi juga dunia. Bumi ini.
🌎

Aku dan Pekerjaanku




#Day1 
#Gurumenulis

Saya seorang guru. Tepatnya guru SD. Saya sangat senang dengan profesiku.
Melihat wajah polos dan tingkah lucu siswa-siswaku setiap hari, menjadi sesuatu yang selamanya akan saya rindukan.

Mereka yang terkadang melontarkan pertanyaan yang tak terduga. Membuatku harus mutar otak untuk bisa memberikan jawaban dengan bahasa yang sederhana dan bisa diterima.
Mereka yang datang dengan berbagai ekspresi(😄
😔😣😭) yang berbeda. Membuatku berusaha melucu sebisa mungkin agar bisa melihat senyum menghiasi raut wajah siswa kecilku.
Mereka yang datang dengan tulisan yang sulit terbaca, sehingga saya harus meluangkan waktu lebih untuk memotivasi.
Hmmm... Banyak lagi.
Ya, saya sangat setuju saat dulu, salah seorang dosen berkata bahwa pekerjaan paling baik bagi seorang perempuan adalah profesi guru.
Kenapa?
Karena menjadi guru, merupakan salah satu pekerjaan mulia. Pekerjaan yang menjadi penentu masa depan anak bangsa.
Pekerjaan yang dikerjakan dari pagi hingga siang/sore hari, sehingga waktu berkumpul bersama keluarga tetap ada.
Berbeda dengan pekerjaan lain yang harus pergi pagi dan pulang malam.
Profesiku yang berusaha mencerdaskan anak-anak bangsa, tentu memberi konstribusi untuk Indonesia.
Bukan hanya cerdas atau pintar, tapi juga menjadi guru kehidupan yang menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Meski saya sendiri tidak luput dari kesalahan.
Baik dan buruknya anak bangsa di masa yang akan datang menjadi tanggung jawab saya.
Dan, karena tugas mulia itu, saya selalu berusaha untuk terus belajar.

Hai, Anda. Yah, Anda yang sedang membaca tulisan ini, dalam hidup Anda pasti ada peran seorang guru bukan?
‪#‎7days‬#writingchallenge#swc

Senin, 05 Oktober 2015



GURU PEMIMPIN


Bila ditanya tentang kepemimpinan, saya sebagai guru akan menjawab, bahwa bagiku, pemimpin itu adalah ia yang saya jadikan panutan, model, dan mampu membinaku dalam menyikapi kehidupan. Jadi, bagi saya pemimpin tidak mutlak mereka yang memegang jabatan tertinggi, tapi bisa juga dia yang ada di tengah-tengah kita dengan segala tabiat baiknya, mampu membuat kita sadar akan tanggung jawab, tanpa banyak kata.  

Saya sangat miris melihat masyarakat di negara ini. Banyak yang berlomba-lomba mengejar suatu jabatan agar bisa disebut pemimpin. Tapi, bagiku pemimpin seperti itu sebenarnya bukanlah pemimpin. Mereka berkeinginan, bukan untuk menjadi pemimpin, tak lain itu hanyalah ambisi untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan.

Jelas beda, antara mereka yang sudah jadi pemimpin sebelum menempati kursi jabatan dengan mereka yang menjadi pemimpin karena telah punya jabatan.

Dan, sebagai guru, saya menyadari akan peran dan andil untuk berusaha mengubah pemikiran anak-anak kecilku sebagai pemimpin masa depan. Mereka tidak harus jadi presiden, mereka tidak harus jadi kepala kantor ini dan itu, tapi mereka harus jadi pemimpin. Aku berharap, anak-anakku kelak tidak perlu merasa rendah diri karena tidak punya jabatan untuk bisa disebut pemimpin. Tapi bagaimana mereka bisa menjadi pemimpin yang dihormati, dikagumi, dan dicintai bahkan tanpa jabatan sekali pun. Kalau pun toh, mereka punya jabatan, itu hanyalah alat untuk mempermudah dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Sehingga pemimpin masa depanku tidak perlu ada yang masuk rumah sakit jiwa hanya karena gagal menempati kursi jabatan untuk bisa disebut pemimpin.  ^_^

Kalau saya punya kesempatan untuk mengikuti pelatihan ini, bukan karena saya mempersiapkan diri untuk memegang suatu jabatan agar bisa disebut pemimpin. Tapi karena saya ingin berupaya senantiasa memperbaiki diri agar bisa jadi pemimpin, meski tanpa disebut pemimpin, meski tanpa jabatan.  


****Terimakasih***

Kamis, 10 September 2015


MATAHARI PUN MERINDU



Terimakasih ya Allah atas rahmat dan kasih-Mu.” Dengan lirih aku berbisik di dalam hati saat menginjakan kaki di bandara Soekarno Hatta, Jakarta pagi itu. Tepatnya dua Januari 2011. Betapa tidak, hari ini adalah hari yang luar biasa bagiku dan sembilan orang teman dari Makassar. Hari dimana aku menyadari bahwa aku akan segera menjemput impian. Semoga ini menjadi langkah awal menuju kesuksesan dunia akhirat. Menyambut impian untuk mempermantap keyakinan menjadi pendidik anak bangsa. Melintasi kampus yang sesungguhnya, hamparan kampus kehidupan.

Hari kesepuluh setelah aku wisuda (22 Desember 2010), aku pernah berbagi kepada teman tentang rasa syukur yang timbul-tenggelam dalam diriku. Hal itu terasa selalu datang menghantui menit demi menit sejak terbitnya fajar hingga tenggelamnya meninggalkanku. Saat aku mulai tersadar bahwa aku bukan lagi mahasiswa. Tambahan tiga huruf di belakang namaku kini menjadi cadas tumpuan karang hidupku di episode kehidupan selanjutnya.

Di bagian sedikit malam aku menyempatkan untuk mengeluh dan memohon pada-Nya. “Mengapa hatiku begitu cemas? Apa karena aku kurang bersyukur?” Sekian lama merenung akhirnya aku mendapatkan rumus, “Ternyata semakin kurang rasa syukur maka tunggulah kecemasan akan menjemputmu, sebaliknya semakin tinggi rasa syukur yang kau miliki maka tunggulah kebahagiaan menjemputmu

            Roda waktu terus berlalu, sepuluh hari itu aku berkutat dalam pencarian. Aku letih, jiwaku lelah tak menentu. Kegamangan kian melanda hari-hariku yang abu-abu. Hingga akhirnya beberapa karakter short message service menggetarkan hp kesayanganku. “Lowongan, bagi yang berminat menjadi guru model dompet duafah republika…” Wah kesempatan nih!

Kuputuskan untuk mengikuti penyeleksian kegiatan itu tanpa sepengetahuan orang yang sangat kucintai. Wanita paru baya yang wajahnya terus terbayang dalam tiap impianku. Suaranya terus terngiang di telinga mengiringi tiap lakuku. Ibuku...

        Semangat yang menggebu-gebu membuat hatiku semakin tak karuan akan ketidakpastian yang akan segera kujemput. Tiba-tiba aku teringat pada afirmasi ukuran kecil yang tertulis di dinding salah seorang senior. Sosok yang padanya kusematkan gelarthe limited edition. K’Darni nama sapaannya. Afirmasinya sangat sederhana, ditulis dengan menggunakan pulpen di atas kertas hvs warna kuning dengan guratan-guratan tinta hitam tidak jelas di sekelilingnya. Ditempel di dinding kamar tanpa bingkai mendampingi afirmasi-afirmasi lainnya. Kali ini memoriku kembali memutarkan afirmasi yang bertuliskan “Tindakan akan menghasilkan kemungkinan”. Aku semakin percaya diri mengikuti wawancara. Tinggal diam akan memberikan kepastian bahwa aku tidak akan meneguk setetes embun pengharapan, tapi dengan bertindak aku akan menciptakan dua kemungkinan, ya atau tidak.  

            Dengan penuh pengharapan aku melangkahkan kaki mengikuti wawancara hari itu. Dalam setiap langkah terbersit doa pengharapan semoga Allah memberi yang terbaik. Di salah satu ruko yang berjejer di pinggir jalan Perintis Kemerdekaan Makassar, wawancara pun dilaksanakan. Ternyata di tempat itu Kartini, K’ainun, dan beberapa orang lainnya tengah duduk menunggu panggilan untuk wawancara. Senyum langsung terpancar menggantikan kerut wajahku yang tadi terkena terik surya yang mulai meninggi disertai kebisingan jalan. Aku pun kemudian mendekat dan menyapa mereka.  “Sudah lama?” tanyaku sambil memperlihatkan mimik yang mnggambarkan kecemasanku. “Lumayan… sekitar dua jam yang lalu, sini duduk!” Jawab K’ Ainun sambil memberiku sedikit ruang untuk duduk disampingnya.

              Detik waktu terus berlalu dan tibalah giliranku. “Bismillah…” aku berjalan masuk ke ruangan yang kurang lebih berukuran 3 x 3 m dengan cat putih bersih. Aku kemudian dipersilahkan duduk setelah menjawab salamku. Raut wajah Bapak itu sangat ramah, memecahkan rayap-rayap ketegangan yang sedari tadi menghinggapiku. Pertanyaan pertama pun dilontarkan sambil membuka biodataku. Menyusul pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang kadang membuat aku tercengang dan sedikit diam untuk berpikir. Menimbang-nimbang keputusan yang akan aku setujui. Kurang lebih 10 menit, wawancara pun berlalu. Sore harinya, Aku, Kartini, dan beberapa teman lainnya dinyatakan lulus.

          Saat dinyatakan lulus, aku meraih hp untuk menghubungi ibuku. Tentu saja ibuku shock mendengar berita ini. “Kemarin minta kursus menjahit, sekarang malah mau berangkat ke Bogor” terdengar warna suaranya, aku tahu beliau  sangat khawatir. Aku diintrogasi dengan berbagai pertanyaan yang diharapnya bisa mematahkan tekadku untuk berhijrah. Ibuku memang sangat menyayangiku dan rasanya begitu berat untuk melepas kepergianku. Aku tetap bertahan dan berusaha memberikan penjelasan. Akhirnya tanteku menelpon, lagi-lagi aku diintrogasi dengan pertanyaan yang serupa, tawarannya untuk melanjutkan S2 di Makassar pun aku abaikan.

        Entah mengapa aku begitu yakin dengan keputusan yang telah aku pilih. Semoga ini adalah petunjuk dari-Nya. Esok harinya aku putuskan untuk pulang kampung. Memberikan pemahaman dengan berbagai referensi yang telah aku dapatkan dari senior-senior bahwa pilihanku insyaallah bukanlah jalan mazmumah. alhamdulillah Ibu dan keluarga dapat berbesar hati. Aku pun dapat berangkat dengan tenang sambil membawa kue buatan ibuku. I love U mom! Aku ingin meneriakkan kata itu berulang kali sampai bibirku beku. Mobil pun melaju seakan menjauhkan aku dari orang tua dan adik-adikku. “Tunggulah, karena aku akan kembali!” ucapku dibarengi air mata yang tak mampu lagi terbendung.  
  
           Bunga dengan hiasan mahkota kecil-kecil berwarna ungu di sebuah pot depan paviliun menyambut kedatangan kami. Bunga itu menjadi perhatian utamaku  tiap kali akan melaksanakan apel pagi di jalan aspal depan paviliun. Makhluk ciptaan Tuhan terindah setelah manusia seakan-akan memberikan penyemangat di pagi hari, bermekaran dan tersenyum sambil berkata, “sambutlah harimu dengan rasa syukur maka bahagia akan menjemput dan merangkulmu”. Bunga indah itu sepertinya malaikat utusan Ilahi, setiap kali memperhatikannya hati serasa tak ada beban. Bibir yang kaku karena dingin pun mulai mengolah motorik untuk menciptakan senyuman termanis sambil mengeluarkan huruf demi huruf merangkai lantunan cinta pada Pencipta. “Baiklah wahai bungaku, akan ku ikuti nasehatmu hingga pernafasan terakhirku.” Aku percaya dapat menaklukan tantangan hidup di dunia panah ini dan SGEI adalah salah satu jalan yang Allah swt.  tunjukkan untukku. Bukan sombong tapi ini adalah keyakinan, karena sesungguhnya Engkau bersamaku. Azzam dengan kokohnya telah tertancap dalam qalbu menggiringku pada jalan mahmudah, jalan yang dirindukan para mukmin dan mukminat. Bahkan matahari pun merindukan itu, terus bertasbih untuk mengobati kerinduan

***Terimakasih***

Rabu, 09 September 2015

REVIEW SEMINAR Menjadi Penulis Best Seller dan Go Nasional


Alhamdulillah, inilah keajaiban di waktu sahur yang semoga mendapat berkah dari-Nya. ^_^
Memang ya, bangun dini hari itu sesuatu. Tetiba saja ada teman di grup yang menawarkan tiket untuk menghadiri Seminar Kepenulisan. Mana pembicaranya penulis-penulis hebat lagi. Cihui... Let's Go! 
  


Wah keren nich,,, gumamku saat melihat brosur ini.

Meski belum tahu persis dimana tempatnya, saya tetap bergegas dan memastikan bahwa untuk kali ini saya tidak boleh terlembat. Saya tidak ingin melewatkan sedikit moment pun dari tiga penulis hebat itu. Dengan berbekal map di handphone, sambil bertanya-tanya pada teman dan petugas Trans Jakarta, lalu dilanjutkan dengan naik ojek, akhirnya saya sampai juga di tujuan, Kompas Gramedia. — atKompas Gramedia.



Saya dan peserta lainnya menunggu di depan pintu yang ternyata belum terbuka. "Yess... aku tidak terlambat." Kapok karena pernah terlambat mengikuti seminar pada satu pekan sebelumnya. Memang membina karakter disiplin itu harus sepanjang masa sepertinya.
Aku berusaha mengatur nafas - tadi jalannya sambil berlari-lari kecil, soalnya. Hi hi hi... 



 Beberapa menit kemudian kami dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan. Hmm... saya dan seorang teman (kenalan baru yang bernama Irma) langsung memilih kursi bagian tengah. Acara dipandu oleh motivator hebat juga loch, Mas Ardi Gunawan. Beliau memulai acara dengan menyapa para peserta dan tentunya memperkenalkan diri agar lebih terkenal... wk wk wk... 
Meski agak gokil gitu, beliau tetap berpesan agar kita yang tinggal jauh dari orang tua, sebisa mungkin menelepon orang tua setiap hari, insyaAllah rezekinya akan semakin mengalir. Aamiin... 
"Itu mengingatkanku pada salah satu point dalam Buku 7 Keajaiban Rezeky." Gumamku.
 



Yuhu... setelah senam otak kanan bersama Mas Ardi Gunawan, acara langsung dilanjutkan dengan menghadirkan Mas A. Fuadi. Ho ho... low profil banget nich orang. Tapi karyanya high banget Bo'.  Akhirnya bertemu juga dengan beliau, beliau yang aku baca bukunya sekitar tahun 2010. Kebetulan saat itu ada teman yang menjadikan bukunya sebagai bahan skripsi. Lalu kutonton filmnya pada tahun 2012 di Duta Mal, Banjarmasin bersama seorang siswaku yang hebat, Maghfiro. Nggak nyangka bisa belajar langsung pada orangnya.





Beliau membawakan materi dengan sangat tenang namun berisi. 

Kesempatan kali ini beliau membahas bagaimana cara "Menulis untuk Mendunia" 

"Semua yang saya dapatkan sekarang berasal dari satu kalimat ajaib; MAN JADDA WA JADA"

Kami pun diminta untuk ikut mengucapkan kata itu, "MAN JADDA WA JADA!".

"Menulis hanya butuh satu hal, yang pertama sebatang polpen, yang kedua secarik kertas, yang ke tiga..." Beliau diam sejenak sambil menunggu jawaban dari peserta.
"Butuh tinta, ide, kata-kata...." peserta berusaha menjawab. Lalu dengan mantap, A.Fuadi menjawab, "Yang ketiga adalah Sebongka Hati." Sontak semua peserte berseru riang. kiki emoticon 

"Bagi saya, tulisan itu lebih kuat dari pada peluru." Beliau melanjutkan, "Mengapa saya katakan lebih kuat dari pada peluru, karena peluru saat dilepaskan hanya bisa berhenti di satu kepala. Sedangkan tulisan, tidak akan berhenti di satu kepala dan tidak hanya satu waktu tapi lagi, lagi, dan lagi. Melintas zaman, melitas geografi." 

"Bagi saya, tulisan adalah karpet terbang yang memerdekakan untuk melintas batas. Dengan menulis saya bisa mengunjungi berbagai negara dengan berbagai beasiswa. Menghadiri undangan untuk menjadi pembicara di hadapan mereka yang menjadikan Novel Negeri 5 Menara sebagai teks wajib perkuliahan." Lanjutnya sambil menunjukkan berbagai foto-fotonya dari berbagai negara. Salah satu kota yang dikunjunginya adalah Cardoba, oh my God. Kapan saya bisa kesana? 

Tipsnya, "Tulislah sesuatu yang menarik bagi orang asing." 

Untuk materinya kurang lebih berikut ini.

BAGAIMANA AGAR TULISAN MENDUNIA?
1. Angkat tema tentang sesuatu yang khas Indonesia. Indonesia punya 17.000 keunikan yang bisa kita ceritakan dari Sabang sampai merauke.
2. Hal yang paling menarik bagi orang asing adalah keberagaman yang ada di Bangasa kita, kekhasan dari setiap daerah yang di negara mereka sendiri tidak ada. Gali budaya, bahasa, agama, legenda, alam dll.
3. Terjemahkan ke bahasa lain. Setelah Anda punya karya, terjemahkanlah ke bahasa Inggris/Arab/Prancis, dan lainnya. Penerjamahan bisa dilakukan dengan dua cara. 
a. Terjemahkan sendiri, cari teman/orang yang bisa membantu untuk menerjemahkan.
b. Cari penerbit lua yang mau menerjemahkan.
4. Aktif kenalkan karya di acara-acara internasional. Tidak usah menunggu untuk diundang, undang diri sendiri saja dulu. Nanti kalau udah dikenal baru diundang. Contoh kegiatannya misalnya UWRF di Ubud Bali. Bangun network. Bawa buku Anda ke mana pun, kemudian ditawarkan/dipromosikan.
5. Gunakan sosial media. Jangan anggap remeh facebook, justru menurut saya facebook itu yang stabil.
6. Pelajari hal-hal yang khas dari penulis lainnya. Misalnya seperti Andrea Hirata, Pramudya, Asma Nadia, dll.

PROSES MENULIS SAYA (A. Fuadi)
1. ''WHY"
Kenapa saya menulis? Niat saya apa? Dalam hal ini, cukup diri sendiri dan Tuhan yang tahu. ini dialog internal.
2. "WHAT"
Tulislah apa yang kita tahu, kita suka, kita cintai, dan peduli akan menjadi obat buat tulisan.
3. "How"
Menulis novel juga harus dilakukan dengan melakukan reset melalui wawancara, ngobrol, baca buku lain yang relevan, kunjungi tempat yang ingin diceritakan, kumpulkan dokumentasi berupa foto dan surat, buka kembali diary, dll.
4. "WHEN"
Cicil setiap hari. Sedikit demi sedikit. Hal yang sangat mungkin untuk menulis satu novel dalam satu tahun. 

Silahkan berkarya, semoga tahun depan kita bisa bertemu lagi dan yang hadir pada saat ini sudah punya karya masing-masing. 

Jangan lupa, setelah jadi buku, pikirkan bagaimana caranya agar buku tersebut bisa dinikmati dalam bentuk
 yang lain. Misalnya jadi film, komik, dan lagu. tentu saja, ini untuk karya yang di dalamnya ada nilai yang kuat.



Nah ini dia nich foto kampung halaman Ahmad Fuadi. Bayur Maninjau, Sumatera Barat.



Nah, yang mau kontak-kontakan sama beliau, ini dia nich alamatnya mulai dari PIN BB sampai ke email. 

Oh ya, bagi teman-teman yang punya karya dan bingung mau diterbitkan di mana, boleh dikirim ke penerbit beliau nich, 5 Menara Literary Agent. Tidak semua bakal diterbitkan sich... tapi apa salahnya mencoba.




 Uda Ahmad Fuadi dan Mas Ippho Santosa. Yang satu peserta yang aku belum kenal.



Hanya yang tiket PIV yang bisa foto bareng. Jadi ya.... harus bersabar and keep smile menjadi pemotret saja. :)

Oh ya, sesuatu yang keren menurut saya. Mereka masih punya waktu untuk berbagi di tengah kesibukan. Hasil penjualan tiketnya 100 persen untuk kegiatan sosial. Dan mereka juga punya lembaga-lembaga sosial khusus  untuk berbagi dengan sesama, seperti sekolah dan taman baca. Keren kaaa...n... 




Next session... Ippho Santosa dan Asma Nadia


Wah emang beda aurahnya kalau yang bicara seorang motivator. he he... itu komentarku saat Mas Ippho baru tampil."

"Bapak ibu harus siap memiliki tiga buku. Yang pertama, buku nikah, yang ke dua, buku tabungan, dan yang ke tiga adalah buku yang kita tulis sendiri. Jangan hanya buku yaasiiin yang banyak dicetak di Indonesia."
Semua peserta sontak tertawa.
"Bahkan kalau bisa jangan mati sebelum menulis buku sendiri."






"Kenapa mereka? dan ada apa dengan mereka?"

KARENA POTENSI YANG BESAR HANYA DIANUGERAHKAN KEPADA MEREKA YANG BERMISI BESAR.



BAGAIMANA SAYA MENULIS?
"Awalnya saya dipaksa menulis. Itu bermula dari tempat saya bekerja, dan saya harus menulis di buletinnya. Kemudian dari tulisan itu ternyata ada yang melirik dan menawarkan untuk dimuat di koran. Dari situ saya mulai menelepon ke berbagia redaksi yang ada di Indonesia. Awalnya jangan pikir berapa duitnya! Tujuannya bagaimana hidup bisa bermanfaat. Alhamdulillah banya yang
 memuat. Hampir setiap tulisan saya dimuat, saya menyertakan nomor hp. saya selalu siap menerima kritikan. itu akan menjadi alat ukur seberapa besar yang minat pada tulisan yang kita tulis. Dan saya juga termasuk orang yang paling sering melakukan editing pada tulisan saya setiap ada yang memberikan kritikan saya tinjau ulang kebenarannya lalu memperbaikinya. Dan akhirnya pada tahun 2005. buku pertama saya dicetak di gramedia pustaka utama."

AGAR GO NASIONAL
1. Mulai dari kanan
-Intention (niat) yang harus kuat dan benar.
-Randomses
Tidak harus menulis sesuatu yang khusus. acak saja dulu untuk memualainya. Apa saja isinya, bagaimana pun bentuknya, tulis saja dulu. Nanti sambil jalan baru temulkan passionnya. Saya pun di awal, tidak menyangkan bahwa saya akan menjadi motivator.
2. Berbeda
-Segement or opportunity -> cari sesuatu yang berbeda dengan yang telah ditulis oleh kebanyakan orang lain. Kalau bisa punya brand sendiri. 
Branding bukanlah sesuatu yang kebetulan tapi harus ditata.
Passion+competence -> Senang, ide mengalir saat menuliskannya, dan punya kemampuan dalam bidang tersebut. 
Appearance + Wording -> Pendongkrak. Harus mencari sesuatu yang bisa membuat kita lebih termotivasi sehingga jenjang karir kepenulisan kikta bisa berjalan lebih cepat.
3. Leverage/pengaruh 
-Print atau broadcas media
Lihat kemampuan kita, apakah lebih ke print (menulis) atau ke bicara siaran di tV atau radio. 
-Website dan sosial media. 
Pandai-pandailah menggunakan sosial media untuk mendukung kemampuan kita.
- certification. award, & celebrity


 Nah ini contoh judul yang menarik. begitu juga dengan sampulnya.


Untuk menjadi buku best seller, tentu tidak mudah. ini dia nih, kiat-kiatnya.





Oh ya... yang mau dicoaching langsung oleh Ippho untuk menyelesaikan buku, ini dia materi yang bisa didapatkan.


Nah ini dia lembaganya Ippho Santosa



Pembicara ke tiga adalah Mba Asma Nadia. 
Ada hal yang menarik saat beliau memperkenalkan diri. Beliau langsung menampilkan foto suaminya lalu berkata, "Ke mana pun saya membawakan seminar, saya selalu menampilkan foto suami saya. Karena saya sadari bahwa seorang istri tidak boleh keluar tanpa izin suaminya." Beliau juga memperlihatkan foto anak-anaknya yang sedang memegang tulisan hasil karyanya. 
"Subhanallah, benar-benar keluarga penulis ya..." kataku dengan sponta pada teman yang ada di sampingku. 

Kemudian beliau melanjutkan perkenalan dengan menceritakan bahwa dirinya dulu hanyalah seorang anak pinggir rel kereta yang sakit-sakitan bahkan memutuskan untuk berhenti kuliah di IPB pada semester 2 karena penyakit yang dideritanya. Ternyata di balik semua itu, Allah telah punya rencana lain yang istimewa untuknya. Asma selalu percaya bahwa, "Allah telah memberi segala untuk jadi luar biasa."
Penulis yang menjadikan tulisan sebagai tiket untuk berkunjung ke 60 negara, 288 kota ini mencoba untuk meyakinkan peserta seminar bahwa Allah tidak melihat siapa orangnya, tapi melihat usahanya untuk menggapai sesuatu dan pantang menyerah pada keterbatasan."

Beliau pun menceritakan kisah seorang penyapu jalanan yang menjadi presiden. Yang setelah aku lihat di WikiPedia bernama Lee Myung Bak. "Bahkan seorang penyapu jalanan pun bisa jadi presiden." Mba Asma berusaha meyakinkan peserta.


Okey... lanjut masuk ke materi inti. 

BEHIND EVERY BOOK
1. Buku bukanlah sekadar ide. Semua orang yang normal di dunia ini pasti punya ide, tapi apakah semuanya punya buku? Tidak. 

2. Adanya keresahan. Ini yang menjadi pendongkrak bagi saya untuk banyak menulis. Keresahan. Lalu Memperlihatkan berbagai Novel dan buku yang telah ditulisnya sambil menjelaskan latar belakang yang membuatnya mengangkat cerita tersebutbmenjadi tulisan. 
"Satu hal lagi, saya menulis juga sebagai wasiat untuk anak-anak saya. Saya tidak tau kapan ajal akan menjemput saya. Namun saya berharap, ketika saya pergi kelak mereka selalu merasakan keberadaan saya dalam buku-buku yang telah saya tulis. Saat mereka berusaha menjadi Muslimah yang baik, tinggal buka buku Salon Kepribadian, kalau menghadapi masalah dan hampir putus asa mereka bisa membaca buku Ayahnya yang berjudul No Excuse, ketika mereka menghadapi masalah dalam pernikahan, mereka tinggal membaca buku Catatan Hati Seorang Istri, dan begitu juga buku-buku yang lainnya." Mba Asma menyampaikan dengan semangat. Menjadikan tulisan sebagai warisan. Keren... kiki emoticon
3. Buku itu kebutuhan, bukan sekadar bacaan untuk hiburan. Tapi bagaimana kemudian seorang menjadikan buku sebagai kebutuhan karena adanya nilai yang menuntun di dalamnya. Tentu harus update juga mengikuti zaman. Jadi penulis harus peka melihat apa yang sedang tren di masyarakat. Berdakwa melalui tulisan, tidak harus melulu menjadi tanggung jawab penulis buku agama bukan? 

5. Menulis itu berjuang untuk berbagi. Ada nilai yang diangkat, dibutuhkan, dan mudah dipahami oleh pembaca. Gunakan kata-kata yang sederhana saja. Tidak usah beranggapan bahwa tulisan yang bagus adalah tulisan yang luar biasa kata-katanya dan membingungkan pembaca. 
6. Mulailah dengan menulis pengalaman. "Tulisan pertama saya dedikasikan kepada Ibu saya sebagai orang yang paling berjasa dalam hidup saya. yang rela untuk tidak makan siang hanya agar bisa membelikan saya buku untuk saya baca saat terbaring di rumah sakit." Mba Asma kembali mengenang masa lalunya. Hiks.. hiks... saya jadi terharu. ;( 

DOSA PENULIS PEMUDA
1. Judul 
Judul jangan terlalu panjang dan jangan terlalu pendek. Judul yang terlalu panjang kadang membuat pembaca tidak penasaran karena sudah tergambar jelas di judul. Sedangkan kalau terlalu pendek, itu kurang menarik. kecuali kalau Anda sudah penulis sesepu yang sudah dikenal. Misalnya judul Assalamualaikum Beijing. Seandainya hanya terdiri dari satu kata, Assalamuaalaikum saja atau Beijing saja, pasti kurang menarik. Tapi karena digabungkan, Jadilah judul itu sesuatu yang menggelitik pembaca untuk mengetahui. 
2. Opening yang tidak menarik. 
Nah, ini yang memang perlu dilatih. Mendeskripsikan tempat dan keadaan boleh, tapi pastikan itu sesuatu yang berbeda, jarang dirasakan oleh orang lain dan tidak sering muncul dalam tulisan buku-buku yang lainnya. 
3. Gagal Fokus
Penulis harus tetap fokus pada tulisannya. kalau pun ada ide lain, cukup tulis ideanya dan keep. Pilihlah ide yang diprioritaskan sampai selesai. Jangan banyak ide, tapi tidak ada yang selesai.
4. Bertele-tele
Penulis jangan terlalu banyak bercerita datar tanpa konflik, atau tanpa ada sesuatu yang membuat pembaca memiliki emosi yang tetap sama. Sudah baca 10 halaman misalanya, tapi belum ada perubahan situasi yang menegangkan, mengharukan, lucu, dan lainnya.
5. Konflik tidak menarik.
Upayakan konflik disampaikan semenarik mungkin. 
6. Pesan verbal
Hindari menggunakan terlalu banyak pesan verbal, itu bisa membuat pembaca merasa digurui. Tapi biarkan pembaca sendiri yang menemukan/menyadari pesan yang ingin disampaikan.
7. Ending yang tidak menarik 
Pada tahun 90-an hampir semua cerpen yang ditulis remaja itu berakhir dengan tragis, semuanya mati pula. Padahal banyak hal-hal imaginatif lainnya yang bisa dijadikan ending cerita. 
8. hal teknis dalam menulis
Ini terkait dengan EYD yang digunakan serta penggunaan kalimat yang susah dipahami.

TIPS MENULIS
1. Menemukan Why, kenapa saya menulis ini?
2. Menulis hal yang baik dan bisa meninggalkan pesan.
3. Cari cara, waktu dan ciptakan suasana yang bisa membuat kita seenak mungkin dalam menulis.
4. Menulis jangan sambil mengedit.
5. Menghukum diri bila waktu menulis terlewatkan.
6. Buka mata, buka telinga, buka hati. Dengarkanlah orang yang curhat.
7. Jangan pernah menulis sesuatu yang akan disesali. 
8. Bangun kesabaran dan keuletan untuk tulisan yang lebih baik. Bukan untuk menjadikan buku lebih tebal, tapi bagaimana usaha kita agar tulisan itu bisa membukakan pintu rezeki lainnya buat kita. 





#Ada saran/kritik? --> 085386527427