Tampilkan postingan dengan label Berawal dari Nama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berawal dari Nama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Mei 2013

Nur Syamsi dan Nursyamsi



Tentang Kami
Nursyamsi & Nur Syamsi

Aku yakin ini yang disebut takdir. Awal kami diberi nama, pasti orang tua kami mempertimbangkannya dengan baik. Sebagaimana sunnah Rasul yang menganjurkan untuk memilih nama baik, nama yang akan dilekatkan pada anak-anaknya.
Kami berdua hanya tersenyum saat mendengar mereka berkomentar atau bertanya, “Kalian saudara ya? Kalian kembar ya? Kok mirip? Dan bla bla bla….”
“Iya, kami saudara seiman.” Jawab kami singkat setelah saling menatap satu sama lain. Lalu disusul oleh tawa.
Hal ini telah menjadi soal sejak Allah mengatur pertemuan kami di seleksi penerimaan guru model. Akhir bulan Desember 2010. Keajaiban ini semakin memuncak saat kami berdua bekerja di tempat yang sama, bahkan dalam ruang kelas yang sama.
Nama kami sama, hanya beda di spasi. Jadilah kami dikenal dengan julukan Nursyamsi tanpa spasi dan Nur Syamsi pakai spasi. ^_^ Banyak respon-respon dari orang yang baru mengenal kami.
Asal daerah kami sama, hanya beda Kabupaten. Kami berasal dari Sulawesi Selatan. Nursyamsi berasal dari Kabupaten Luwu,Palopo sedangkan Nur Syamsi berasal dari Kabupaten Enrekang. Namun pada dasarnya, Palopo-Enrekang masih serumpun kok. Terbukti dari makanan kesukaan Nur Syamsi yakni kapurung yang sebenarnya merupakan ciri khas masyarakat Palopo. Nah… bagaimana dengan Nursyamsi? Nursyamsi juga suka makan Kapurung bahkan ahli membuatnya, jadi wajar saja bila Nur Syamsi merasa senang bisa kenal dengan Nursyamsi ^_^. Namun di samping Kapurung, Nursyamsi juga sangaaa…t menyukai nasi goreng.
Kampus kami sama, hanya beda jurusan.Ya! Pada dasarnya kami sudah saling mengenal sejak di kampus UNM. Tapi hanya sebatas nama. Allah belum menginginkan kami untuk saling bercengkramah lebih jauh mungkin. Waktu itu, Nur Syamsi mengambil jurusan bahasa Indonesia, sedangkan Nursyamsi mengambil jurusan Bahasa Inggris. Sama-sama bahasa lagi kan? Yang berarti kami juga satu fakultas.
Jumlah saudara kami sama, hanya beda jumlah saudara laki-laki dan jumlah saudara perempuannya.Nur Syamsi punya empat saudara laki-laki dan satu saudara perempuan. Nursyamsi, punya dua saudara perempuan dan tiga saudara laki-laki. Hal yang jadi pembeda juga karena Nur Syamsi anak sulung sedangkan Nursyamsi anak ke tiga.
Usia hampir sama, Nursyamsi lahir tahun 1987 sedangkan Nur Syamsi lahir tahun 1988.  Hal ini juga mempelopori nama baru untuk kami. Yakni Anci Besar dan Anci Kecil. Padahal dari postur badan, Si Anci Kecil lebih besar dari pada Anci Besar. Bagi orang yang belum terlalu kenal, tentu saja itu sesuatu yang aneh. “Sebenarnya yang mana Anci Besar dan yang mana Anci Kecil sih?” tanya mereka gemas dengan nama kami.
Wajah kami pun katanya mirip, hanya beda di lesung pipit.Komentar ini baru kami dapat kemarin saat bertemu dengan teman-teman SGI 4. Katanya Nursyamsi lesung pipitnya ada di sebelah kiri, sedangkan Nur Syamsi lesung pipitnya ada di pipi sebelah kanan. Ada-ada saja respon di luar yang kami sadari sebelumnya.
Oh ya, kami juga punya boneka lucu yang sama, hanya beda warna. Bonekanya kami beli bersama di penjual asongan. Nursyamsi pilih biru dan Nur Syamsi pilih yang berwarna ungu. Masih teringat betul, saat itu kami baru bertemu kembali di Bogor setelah berpisah selama kurang lebih satu tahun.

Profesi kami sama, hanya beda pengampuh mata pelajaran. Bukan hanya profesi yang sama, tapi juga tempat mengajar dan wali kelas pada kelas yang sama. Bedanya, Nur Syamsi tetap sebagai pengampuh mata pelajaran Bahasa Indonesia dan science, sedangkan Nursyamsi menjadi pengampuh mata pelajaran matematika. Bisa dibayangkan, siswa, rekan kerja, dan orang tua siswa yang harus kebingungan dengan takdir ini.Namun itu hanya proses, seiring berjalannya waktu mereka pun mulai mengenal dengan baik. Tentunya dengan julukan yang baru yakni, Nursyamsi = Ms. Anci dan Nur Syamsi = Ms. Syamsi. ^_^
Dari berbagai kesamaan di atas, karakter kami cukup berbeda. Berikut ini adalah penilaian dari teman dan rekan kerja. Nursyamsi lebih cool, tegas, sungguh-sungguh, bisa diandalkan, dan pemberani. Olehnya itu, lebih dikenal sebagai orang yang serius tapi bukan berarti tidak bisa bercanda, suka bercanda juga kok, apalagi kepada para siswa-siswanya. Sedangkan Nur Syamsi lebih manja, suka cengengesan, sembrono, semangat, selalu berpositif thinking (bahkan pada orang yang belum tentu baik). Olehnya itu di mata teman-temannya sekarang, Nur Syamsi dikenal sangat lugu. He he… entah…  
Nah selanjutnya menurut siswa kami apaya? Berikut kutipannya:
Rasyad  :  “Miss Syamsi dan Miss Anci imbang galaknya. Kalau Miss Anci  lebih serius karena untuk ulangannya nanti nggak bisa kalau nggak serius. Kalau Miss Syamsi, bisa main-main gitu. Nah kalau Miss Anci lebih jarang main gamenya, kalau Miss Syamsi sering.”
Rara       : “Kalau Miss Anci sukanya bercanda, tapi kalau Miss Syamsi sukanya diam.”
Kania dan Mira: “Kalau Miss Syamsi nyuruhnya selalu PR, kalau Miss Anci dikit.”
Hani       : “Kalau Miss Syamsi suka tersenyum kalau Miss Anci jarang.”
Farras    : “Kalau Miss Syamsi jerawatan.”
Khansa N. : “Kalau Miss Syamsi lebih tinggi dan ceking, sedangkan Miss Anci gendut.”
Khansa A. : “Miss Anci pakai gelang, kalau Miss Syamsi pakai jam.”
Rama : “Kalau Miss Anci, setelah salam langsung belajar, kalau Miss Syamsi Setelah salam ketawa dulu, main-main gitu.”
Rania     : “Kalau Miss Syamsi aneh menyebut /e/. Misalnya kalau bilang terdahulu atau meter. Sedang Miss. Anci biasa saja.”
Hm.... itulah celotehan siswa-siswa kami. Sebenarnya ingin berkilah, tapi itulah kami di mata mereka. Bukankah mereka selalu berkata jujur (sesuai pemahaman mereka)? Satu hal yang pasti kami hanya bisa cengengesan saat mendengar penjelasan dari mereka. Seperti itulah kami akan dikenang.
Kami kini tinggal di rumah yang sama, hanya beda kamar. Kami tinggal di Hikari Home, bertiga dengan Mbak Sofa Nurdiyanti. Berlanjutlah menjadi tiga NUR. Pembaca yang budiman, dengan dua nama yang sama saja, pusingkan? Apalagi kalau penulis menceritakan tentang tiga NUR. Wah… bisa semakin pusing, tapi lebih pusing lagi penulisnya. He he…
Begitu besar Allah yang Maha Mengatur segalanya. Kita tidak tahu apa ada rencana Allah yang lebih besar di balik semua ini. Satu hal yang pasti, sekarang kami merasa saling melengkapi.
Silembah hawa itulah pepatah Bugis yang cocok untuk kami. Penulis pikir itu hanya ditujukan untuk dua mempelai yang telah dinyatakan berjodoh. Ternyata dalam persahabatan pun, IYA. Terimakasih ya Allah atas nikmat-Mu. Anugerahkanlah selalu nikmat iman-Mu kepada kami agar tetap bersaudara dan beriktiar di jalan-Mu.