Telahkah kau ulurkan tanganmu
sebagai penyempurnah ibadahmu?
Akankah kelahiranmu menjadi berita
gembira bagi mereka?
Butuh kejelian dan pertimbangan yang matang untuk memilih
dan mengemas bingkisan yang akan diberikan kepada orang yang disayangi. Apa isi
yang akan dihadiakan, dikemas dengan warna apa, bentuknya kotak atau silinder,
kapan akan diserahkan, dimana akan diserahkan. Berbagai hal harus
dipertimbangkan. Apa tah lagi kalau yang dibingkis itu adalah manusia. Manusia
yang penuh girah dan prasangka. Pastinya butuh proses panjang yang harus
dilakukan agar dapat menjadikannya bingkisan yang istimewa.
Berbuat baik memang akan diperhadapkan pada berbagai
kesulitan-kesulitan. Tantangan yang akan merontokkan bulu pada sayap-sayap
orang yang tak teguh (iman). Tak jarang kita temui orang yang merasa puas
dengan membahagiakan diri sendiri. Sifat individualistik kian membahana. Kanibal-kanibal
merajalela, negara yang warganya mayoritas muslim ini ternyata budaya korupsi,
penipuan, suap, dan free sex menjalar seperti jamur di musim hujan. Bagaimana
mungkin angka kemiskinan terus meningkat di tengah makin bertambahnya jumlah
jamaah haji dari Indonesia. Perlu dipahami
bahwa agama bukanlah sebatas hubungan mesrah seseorang dengan Tuhannya tapi bagaimana
seseorang peka melihat realitas yang ada disekelilingnya.
SGEI (Sekolah Guru Ekselensia Indonesia) LPI Dompet Dhuafa Bogor, sekolah yang kini berusaha membingkis
manusia-manusia Al-maun. Manusia yang akan menciptakan senyumnya disebabkan
oleh kebahagiaan orang disekitarnya. Bingkisan yang akan dipersembahkan itulah,
tempat digantungnya harapan akan tumbuh sepotong kebahagiaan bagi penerima dan
pemberi. Tidak sebatas itu, pemberian bingkisan bukanlah candu yang hanya
memberi kenikmatan sejenak. Namun sesungguhnya ada kesuksesan yang hakiki di
balik semua perilaku itu. Peyempurnaan ibadah pada sang Khalik.
Sebagaimana sambutan
presiden direktur Dompet Dhuafa 2010 “Keberhasilan suatu pendidikan sangat
ditentukan oleh kualitas guru, hal lain seperti bangunan fisik, peralatan dan
lain-lain juga merupakan hal penting tetapitetap merupakan sarana penunjang.
Bertitik tolak dari hal itu, maka pada hari ini secara resmi LPI Dompet Dhuafah
meluncurkan program Sekolah Guru Eksenlensia Indonesia yang diharapkan mampu
menhasilkan guru-guru berkualitas dan berakhlakul karimah.”
Erbe Sentanu dalam bukunya Quantum Ikhlas menyatakan
bahwa memberi sama dengan menerima. Tidak ada rugi sedikit pun bagi yang ingin
memberi. Sesungguhnya Allah maha pemberi balasan. Saling berbagi merupakan
sikap yang harus ditanamkan sejak dini. Jika ingin disayangi, menyayangilah!
Jika ingin dipahami, cobalah untuk memahami!
Teman seperjuanganku di SGEI ,
jadilah bingkisan bagi mereka yang ada di sana. Entah di
pelosok negara, atau di tengah-tengah kampung halaman tempat berkubang bersama
sanak saudara. Awalilah dengan menyingkap tirai-tirai cinta di sekolah magang.
Tempat yang tak lain adalah oase pelepas
dahaga akan ilmu. Cicipilah dengan mengucapkan bismillah. Nikmatilah segalah
hal yang ada di sekolah magang, niscaya nanti kau akan merindukannya. Kalau pun
bila rindu tak datang jua, satu hal yang pasti kau telah mengenalnya. Kau telah
tau bagaimana bentuk, warna, dan baunya. Hingga kelak ruang dan waktu tidaklah
menjadi alasan bagimu untuk tak peduli pada dunia pendidikan.
Guruku, sesungguhnya apa yang kita berikan pasti akan
mendapatkan balasan dari-Nya, baik di dunia mau pun di akhirat. Jadikanlah
tawa, keluh, dan tangis para siswa menjadi jalan setapak menuju berkah Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar