Jumat, 03 Mei 2013

Uluran tangan seorang guru



Telahkah kau ulurkan tanganmu sebagai penyempurnah ibadahmu?
Akankah kelahiranmu menjadi berita gembira bagi mereka?

Butuh kejelian dan pertimbangan yang matang untuk memilih dan mengemas bingkisan yang akan diberikan kepada orang yang disayangi. Apa isi yang akan dihadiakan, dikemas dengan warna apa, bentuknya kotak atau silinder, kapan akan diserahkan, dimana akan diserahkan. Berbagai hal harus dipertimbangkan. Apa tah lagi kalau yang dibingkis itu adalah manusia. Manusia yang penuh girah dan prasangka. Pastinya butuh proses panjang yang harus dilakukan agar dapat menjadikannya bingkisan yang istimewa. 
Berbuat baik memang akan diperhadapkan pada berbagai kesulitan-kesulitan. Tantangan yang akan merontokkan bulu pada sayap-sayap orang yang tak teguh (iman). Tak jarang kita temui orang yang merasa puas dengan membahagiakan diri sendiri. Sifat individualistik kian membahana. Kanibal-kanibal merajalela, negara yang warganya mayoritas muslim ini ternyata budaya korupsi, penipuan, suap, dan free sex menjalar seperti jamur di musim hujan. Bagaimana mungkin angka kemiskinan terus meningkat di tengah makin bertambahnya jumlah jamaah haji dari Indonesia. Perlu dipahami bahwa agama bukanlah sebatas hubungan mesrah seseorang dengan Tuhannya tapi bagaimana seseorang peka melihat realitas yang ada disekelilingnya.
SGEI (Sekolah Guru Ekselensia Indonesia) LPI Dompet Dhuafa Bogor, sekolah yang kini berusaha membingkis manusia-manusia Al-maun. Manusia yang akan menciptakan senyumnya disebabkan oleh kebahagiaan orang disekitarnya. Bingkisan yang akan dipersembahkan itulah, tempat digantungnya harapan akan tumbuh sepotong kebahagiaan bagi penerima dan pemberi. Tidak sebatas itu, pemberian bingkisan bukanlah candu yang hanya memberi kenikmatan sejenak. Namun sesungguhnya ada kesuksesan yang hakiki di balik semua perilaku itu. Peyempurnaan ibadah pada sang Khalik.
Sebagaimana sambutan presiden direktur Dompet Dhuafa 2010 “Keberhasilan suatu pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas guru, hal lain seperti bangunan fisik, peralatan dan lain-lain juga merupakan hal penting tetapitetap merupakan sarana penunjang. Bertitik tolak dari hal itu, maka pada hari ini secara resmi LPI Dompet Dhuafah meluncurkan program Sekolah Guru Eksenlensia Indonesia yang diharapkan mampu menhasilkan guru-guru berkualitas dan berakhlakul karimah.”
Erbe Sentanu dalam bukunya Quantum Ikhlas menyatakan bahwa memberi sama dengan menerima. Tidak ada rugi sedikit pun bagi yang ingin memberi. Sesungguhnya Allah maha pemberi balasan. Saling berbagi merupakan sikap yang harus ditanamkan sejak dini. Jika ingin disayangi, menyayangilah! Jika ingin dipahami, cobalah untuk memahami!
Teman seperjuanganku di SGEI , jadilah bingkisan bagi mereka yang ada di sana. Entah di pelosok negara, atau di tengah-tengah kampung halaman tempat berkubang bersama sanak saudara. Awalilah dengan menyingkap tirai-tirai cinta di sekolah magang. Tempat yang tak lain adalah oase  pelepas dahaga akan ilmu. Cicipilah dengan mengucapkan bismillah. Nikmatilah segalah hal yang ada di sekolah magang, niscaya nanti kau akan merindukannya. Kalau pun bila rindu tak datang jua, satu hal yang pasti kau telah mengenalnya. Kau telah tau bagaimana bentuk, warna, dan baunya. Hingga kelak ruang dan waktu tidaklah menjadi alasan bagimu untuk tak peduli pada dunia pendidikan.
 Guruku, sesungguhnya apa yang kita berikan pasti akan mendapatkan balasan dari-Nya, baik di dunia mau pun di akhirat. Jadikanlah tawa, keluh, dan tangis para siswa menjadi jalan setapak menuju berkah Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar