MATAHARI PUN MERINDU
“Terimakasih
ya Allah atas rahmat dan kasih-Mu.” Dengan lirih aku berbisik di
dalam hati saat menginjakan kaki di bandara Soekarno Hatta, Jakarta pagi itu.
Tepatnya dua Januari 2011. Betapa tidak, hari ini adalah hari yang luar biasa
bagiku dan sembilan orang teman dari Makassar. Hari dimana aku menyadari bahwa
aku akan segera menjemput impian. Semoga ini menjadi langkah awal menuju
kesuksesan dunia akhirat. Menyambut impian untuk mempermantap keyakinan menjadi
pendidik anak bangsa. Melintasi kampus yang sesungguhnya, hamparan kampus
kehidupan.
Hari kesepuluh setelah aku wisuda (22 Desember 2010), aku pernah
berbagi kepada teman tentang rasa syukur yang timbul-tenggelam dalam diriku.
Hal itu terasa selalu datang menghantui menit demi menit sejak terbitnya fajar
hingga tenggelamnya meninggalkanku. Saat aku mulai tersadar bahwa aku bukan
lagi mahasiswa. Tambahan tiga huruf di belakang namaku kini menjadi cadas
tumpuan karang hidupku di episode kehidupan selanjutnya.
Di bagian sedikit malam aku menyempatkan untuk mengeluh dan
memohon pada-Nya. “Mengapa
hatiku begitu cemas? Apa karena aku kurang bersyukur?” Sekian lama
merenung akhirnya aku mendapatkan rumus, “Ternyata
semakin kurang rasa syukur maka tunggulah kecemasan akan menjemputmu,
sebaliknya semakin tinggi rasa syukur yang kau miliki maka tunggulah
kebahagiaan menjemputmu”
Roda waktu terus berlalu, sepuluh hari itu aku berkutat dalam pencarian. Aku
letih, jiwaku lelah tak menentu. Kegamangan kian melanda hari-hariku yang
abu-abu. Hingga akhirnya beberapa karakter short message service menggetarkan hp kesayanganku. “Lowongan, bagi yang berminat
menjadi guru model dompet duafah republika…” Wah kesempatan nih!
Kuputuskan untuk mengikuti penyeleksian kegiatan itu tanpa
sepengetahuan orang yang sangat kucintai. Wanita paru baya yang wajahnya terus
terbayang dalam tiap impianku. Suaranya terus terngiang di telinga mengiringi
tiap lakuku. Ibuku...
Semangat yang menggebu-gebu membuat hatiku semakin tak karuan akan
ketidakpastian yang akan segera kujemput. Tiba-tiba aku teringat pada afirmasi
ukuran kecil yang tertulis di dinding salah seorang senior. Sosok yang padanya
kusematkan gelarthe
limited edition. K’Darni
nama sapaannya. Afirmasinya sangat sederhana, ditulis dengan menggunakan pulpen
di atas kertas hvs warna kuning dengan guratan-guratan tinta hitam tidak jelas
di sekelilingnya. Ditempel di dinding kamar tanpa bingkai mendampingi
afirmasi-afirmasi lainnya. Kali ini memoriku kembali memutarkan afirmasi yang
bertuliskan “Tindakan
akan menghasilkan kemungkinan”. Aku semakin percaya diri mengikuti
wawancara. Tinggal diam akan memberikan kepastian bahwa aku tidak akan meneguk
setetes embun pengharapan, tapi dengan bertindak aku akan menciptakan dua
kemungkinan, ya atau tidak.
Dengan penuh pengharapan aku melangkahkan kaki mengikuti wawancara hari itu.
Dalam setiap langkah terbersit doa pengharapan semoga Allah memberi yang
terbaik. Di salah satu ruko yang berjejer di pinggir jalan Perintis Kemerdekaan
Makassar, wawancara pun dilaksanakan. Ternyata di tempat itu Kartini, K’ainun,
dan beberapa orang lainnya tengah duduk menunggu panggilan untuk wawancara.
Senyum langsung terpancar menggantikan kerut wajahku yang tadi terkena terik
surya yang mulai meninggi disertai kebisingan jalan. Aku pun kemudian mendekat
dan menyapa mereka. “Sudah
lama?” tanyaku sambil memperlihatkan mimik yang mnggambarkan
kecemasanku. “Lumayan…
sekitar dua jam yang lalu, sini duduk!” Jawab K’ Ainun sambil
memberiku sedikit ruang untuk duduk disampingnya.
Detik waktu terus berlalu dan tibalah giliranku. “Bismillah…” aku
berjalan masuk ke ruangan yang kurang lebih berukuran 3 x 3 m dengan cat putih
bersih. Aku kemudian dipersilahkan duduk setelah menjawab salamku. Raut wajah
Bapak itu sangat ramah, memecahkan rayap-rayap ketegangan yang sedari tadi
menghinggapiku. Pertanyaan pertama pun dilontarkan sambil membuka biodataku.
Menyusul pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang kadang membuat aku tercengang dan
sedikit diam untuk berpikir. Menimbang-nimbang keputusan yang akan aku setujui.
Kurang lebih 10 menit, wawancara pun berlalu. Sore harinya, Aku, Kartini, dan
beberapa teman lainnya dinyatakan lulus.
Saat dinyatakan lulus, aku meraih hp untuk menghubungi ibuku.
Tentu saja ibuku shock mendengar berita ini. “Kemarin minta kursus menjahit, sekarang malah mau
berangkat ke Bogor” terdengar warna suaranya, aku tahu beliau
sangat khawatir. Aku diintrogasi dengan berbagai pertanyaan yang diharapnya
bisa mematahkan tekadku untuk berhijrah. Ibuku memang sangat menyayangiku dan
rasanya begitu berat untuk melepas kepergianku. Aku tetap bertahan dan berusaha
memberikan penjelasan. Akhirnya tanteku menelpon, lagi-lagi aku diintrogasi
dengan pertanyaan yang serupa, tawarannya untuk melanjutkan S2 di Makassar pun
aku abaikan.
Entah mengapa aku begitu yakin dengan keputusan yang telah aku
pilih. Semoga ini adalah petunjuk dari-Nya. Esok harinya aku putuskan untuk
pulang kampung. Memberikan pemahaman dengan berbagai referensi yang telah aku
dapatkan dari senior-senior bahwa pilihanku insyaallah bukanlah jalan mazmumah. alhamdulillah Ibu dan keluarga dapat berbesar hati.
Aku pun dapat berangkat dengan tenang sambil membawa kue buatan ibuku. I love U mom! Aku
ingin meneriakkan kata itu berulang kali sampai bibirku beku. Mobil pun melaju
seakan menjauhkan aku dari orang tua dan adik-adikku. “Tunggulah, karena aku akan
kembali!” ucapku dibarengi air mata yang tak mampu lagi terbendung.
Bunga dengan hiasan mahkota kecil-kecil berwarna ungu di sebuah
pot depan paviliun menyambut kedatangan kami. Bunga itu menjadi perhatian
utamaku tiap kali akan melaksanakan apel pagi di jalan aspal depan
paviliun. Makhluk ciptaan Tuhan terindah setelah manusia seakan-akan memberikan
penyemangat di pagi hari, bermekaran dan tersenyum sambil berkata, “sambutlah harimu dengan rasa
syukur maka bahagia akan menjemput dan merangkulmu”. Bunga indah
itu sepertinya malaikat utusan Ilahi, setiap kali memperhatikannya hati serasa
tak ada beban. Bibir yang kaku karena dingin pun mulai mengolah motorik untuk
menciptakan senyuman termanis sambil mengeluarkan huruf demi huruf merangkai
lantunan cinta pada Pencipta. “Baiklah wahai bungaku, akan ku ikuti nasehatmu
hingga pernafasan terakhirku.” Aku percaya dapat menaklukan tantangan hidup di
dunia panah ini dan SGEI adalah salah satu jalan yang Allah swt.
tunjukkan untukku. Bukan sombong tapi ini adalah keyakinan, karena
sesungguhnya Engkau bersamaku. Azzam dengan kokohnya telah tertancap dalam
qalbu menggiringku pada jalan mahmudah, jalan yang
dirindukan para mukmin dan mukminat. Bahkan matahari pun merindukan itu, terus
bertasbih untuk mengobati kerinduan
***Terimakasih***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar