Tentang Kami
Nursyamsi & Nur Syamsi
Aku yakin ini yang disebut takdir.
Awal kami diberi nama, pasti orang tua kami mempertimbangkannya dengan baik.
Sebagaimana sunnah Rasul yang menganjurkan untuk memilih nama baik, nama yang
akan dilekatkan pada anak-anaknya.
Kami berdua hanya tersenyum saat
mendengar mereka berkomentar atau bertanya, “Kalian saudara ya? Kalian kembar
ya? Kok mirip? Dan bla bla bla….”
“Iya, kami saudara seiman.” Jawab kami singkat setelah
saling menatap satu sama lain. Lalu disusul oleh tawa.
Hal ini telah menjadi soal sejak
Allah mengatur pertemuan kami di seleksi penerimaan guru model. Akhir bulan
Desember 2010. Keajaiban ini semakin memuncak saat kami berdua bekerja di tempat
yang sama, bahkan dalam ruang kelas yang sama.
Nama kami sama, hanya beda di
spasi. Jadilah kami dikenal dengan julukan Nursyamsi tanpa spasi dan Nur Syamsi
pakai spasi. ^_^ Banyak respon-respon dari orang yang baru mengenal kami.
Asal daerah kami sama, hanya beda
Kabupaten. Kami berasal dari Sulawesi Selatan. Nursyamsi berasal dari Kabupaten
Luwu,Palopo sedangkan Nur Syamsi berasal dari Kabupaten Enrekang. Namun pada
dasarnya, Palopo-Enrekang masih serumpun kok. Terbukti dari makanan kesukaan
Nur Syamsi yakni kapurung yang sebenarnya merupakan ciri khas masyarakat
Palopo. Nah… bagaimana dengan Nursyamsi? Nursyamsi juga suka makan Kapurung
bahkan ahli membuatnya, jadi wajar saja bila Nur Syamsi merasa senang bisa
kenal dengan Nursyamsi ^_^. Namun di samping Kapurung, Nursyamsi juga sangaaa…t
menyukai nasi goreng.
Kampus kami sama, hanya beda
jurusan.Ya! Pada dasarnya kami sudah saling mengenal sejak di kampus UNM. Tapi
hanya sebatas nama. Allah belum menginginkan kami untuk saling bercengkramah
lebih jauh mungkin. Waktu itu, Nur Syamsi mengambil jurusan bahasa Indonesia,
sedangkan Nursyamsi mengambil jurusan Bahasa Inggris. Sama-sama bahasa lagi
kan? Yang berarti kami juga satu fakultas.
Jumlah saudara kami sama, hanya
beda jumlah saudara laki-laki dan jumlah saudara perempuannya.Nur Syamsi punya
empat saudara laki-laki dan satu saudara perempuan. Nursyamsi, punya dua
saudara perempuan dan tiga saudara laki-laki. Hal yang jadi pembeda juga karena
Nur Syamsi anak sulung sedangkan Nursyamsi anak ke tiga.
Usia hampir sama, Nursyamsi lahir
tahun 1987 sedangkan Nur Syamsi lahir tahun 1988. Hal ini juga mempelopori nama baru untuk kami.
Yakni Anci Besar dan Anci Kecil. Padahal dari postur badan, Si Anci Kecil lebih
besar dari pada Anci Besar. Bagi orang yang belum terlalu kenal, tentu saja itu
sesuatu yang aneh. “Sebenarnya yang mana Anci Besar dan yang mana Anci Kecil
sih?” tanya mereka gemas dengan nama kami.
Wajah kami pun katanya mirip, hanya
beda di lesung pipit.Komentar ini baru kami dapat kemarin saat bertemu dengan
teman-teman SGI 4. Katanya Nursyamsi lesung pipitnya ada di sebelah kiri,
sedangkan Nur Syamsi lesung pipitnya ada di pipi sebelah kanan. Ada-ada saja respon
di luar yang kami sadari sebelumnya.
Oh ya, kami juga punya boneka lucu
yang sama, hanya beda warna. Bonekanya kami beli bersama di penjual asongan.
Nursyamsi pilih biru dan Nur Syamsi pilih yang berwarna ungu. Masih teringat
betul, saat itu kami baru bertemu kembali di Bogor setelah berpisah selama
kurang lebih satu tahun.
Profesi kami sama, hanya beda
pengampuh mata pelajaran. Bukan hanya profesi yang sama, tapi juga tempat
mengajar dan wali kelas pada kelas yang sama. Bedanya, Nur Syamsi tetap sebagai
pengampuh mata pelajaran Bahasa Indonesia dan science, sedangkan Nursyamsi
menjadi pengampuh mata pelajaran matematika. Bisa dibayangkan, siswa, rekan
kerja, dan orang tua siswa yang harus kebingungan dengan takdir ini.Namun itu
hanya proses, seiring berjalannya waktu mereka pun mulai mengenal dengan baik.
Tentunya dengan julukan yang baru yakni, Nursyamsi = Ms. Anci dan Nur Syamsi =
Ms. Syamsi. ^_^
Dari berbagai kesamaan di atas,
karakter kami cukup berbeda. Berikut ini adalah penilaian dari teman dan rekan
kerja. Nursyamsi lebih cool, tegas,
sungguh-sungguh, bisa diandalkan, dan pemberani. Olehnya itu, lebih dikenal
sebagai orang yang serius tapi bukan berarti tidak bisa bercanda, suka bercanda
juga kok, apalagi kepada para siswa-siswanya. Sedangkan Nur Syamsi lebih manja,
suka cengengesan, sembrono, semangat, selalu berpositif thinking (bahkan pada
orang yang belum tentu baik). Olehnya itu di mata teman-temannya sekarang, Nur
Syamsi dikenal sangat lugu. He he… entah…
Nah selanjutnya menurut siswa kami
apaya? Berikut kutipannya:
Rasyad : “Miss Syamsi dan Miss Anci
imbang galaknya. Kalau Miss Anci lebih
serius karena untuk ulangannya nanti nggak bisa kalau nggak serius. Kalau Miss
Syamsi, bisa main-main gitu. Nah kalau Miss Anci lebih jarang main gamenya,
kalau Miss Syamsi sering.”
Rara : “Kalau Miss Anci sukanya bercanda, tapi kalau Miss Syamsi
sukanya diam.”
Kania dan Mira: “Kalau Miss Syamsi
nyuruhnya selalu PR, kalau Miss Anci dikit.”
Hani : “Kalau Miss Syamsi suka tersenyum kalau Miss Anci jarang.”
Farras : “Kalau Miss Syamsi jerawatan.”
Khansa N. : “Kalau Miss Syamsi
lebih tinggi dan ceking, sedangkan Miss Anci gendut.”
Khansa A. : “Miss Anci pakai
gelang, kalau Miss Syamsi pakai jam.”
Rama : “Kalau Miss Anci, setelah
salam langsung belajar, kalau Miss Syamsi Setelah salam ketawa dulu, main-main
gitu.”
Rania : “Kalau Miss Syamsi aneh menyebut /e/. Misalnya kalau bilang terdahulu atau meter. Sedang Miss. Anci biasa saja.”
Hm.... itulah celotehan siswa-siswa
kami. Sebenarnya ingin berkilah, tapi itulah kami di mata mereka. Bukankah
mereka selalu berkata jujur (sesuai pemahaman mereka)? Satu hal yang pasti kami
hanya bisa cengengesan saat mendengar penjelasan dari mereka. Seperti itulah
kami akan dikenang.
Kami kini tinggal di rumah yang
sama, hanya beda kamar. Kami tinggal di Hikari Home, bertiga dengan Mbak Sofa
Nurdiyanti. Berlanjutlah menjadi tiga NUR. Pembaca yang budiman, dengan dua
nama yang sama saja, pusingkan? Apalagi kalau penulis menceritakan tentang tiga
NUR. Wah… bisa semakin pusing, tapi lebih pusing lagi penulisnya. He he…
Begitu besar Allah yang Maha
Mengatur segalanya. Kita tidak tahu apa ada rencana Allah yang lebih besar di
balik semua ini. Satu hal yang pasti, sekarang kami merasa saling melengkapi.
Silembah
hawa itulah pepatah Bugis yang cocok untuk kami. Penulis pikir itu hanya
ditujukan untuk dua mempelai yang telah dinyatakan berjodoh. Ternyata dalam
persahabatan pun, IYA. Terimakasih ya Allah atas nikmat-Mu. Anugerahkanlah
selalu nikmat iman-Mu kepada kami agar tetap bersaudara dan beriktiar di
jalan-Mu.

